Time Blocking dan Mindfulness

MOM JOURNAL

Saya sering bertanya-tanya dalam hati. Di era sosial media sekarang ini, mungkin gak sih orang tuh untuk dapat mindful dalam setiap aktivitasnya?

Mindful /ˈmaɪnd.fəl/
Careful not to forget about something:
Deliberately aware of your body, mind, and feelings in the present moment, in order to create a feeling of calm.

Untuk saya misalnya. Rasanya susah sekali untuk dapat mindful. Untuk bisa aware terhadap badan, pikiran, dan perasaan disaat melakukan sesuatu. Seringnya jadi gampang terdistraksi. Kayak yang badannya dimana, pikirannya dimana, hatinya dimana.

Membersamai.

Kata itu jadi terdengar powerful banget. Bersama secara fisik, pikiran dan hati. Itu gak mudah, sama sekali. Seringnya saya tuh merasa mudah terdistraksi kalau lagi bareng sama anak. Main sama anak misalnya. Tiba-tiba whatsapp pribadi masuk, trus jadi mudah untuk bilang “Ka, bentar yaa ada whatsapp. Mami bales dulu ya”. Padahal mungkin ya gak penting-penting banget sebenernya. Dibalesnya nanti-nanti juga harusnya gak papa.

Tapi ya itu. Terjadinya lumayan sering juga.

Lagi nemenin screen time misalnya. Sama. Posisi badan ke tv, mata ke hp, dan hati kemana-mana gak tau lagi. Gitu terus.

Sampai pada suatu hari, ku mendengar obrolan. Lupa yang bicara siapa. Bahwa kita bisa loh menganalogikannya sebagai “meeting time”. Iya meeting layaknya orang-orang di kantor itu. Yang kalau sudah waktunya meeting, maka harus fokus membahas segala sesuatu yang diagendakan dan no gadget. HP di mode silent atau dimatikan sekalian.

Analogi ini kena banget di saya.

Sejatinya memang kan semua berkaitan dengan waktu. Bahwa “semua ada waktunya”. Ada waktu masak, nyuci-nyuci, kerja, main sama anak, belajar bareng anak, pacaran sama suami, movie/screen time, me time, dan lain-lainnya itu. Semua ada waktunya. Time block.

Cuma ya mungkin karena dulu pun terlalu sering mengagungkan “multi-tasking” yang berlebihan, jadi cenderung berpikir kalau semua bisa dikerjakan secara bersamaan. Padahal tidak semua hal bisa dikerjakan berbarengan. Membersamai anak misalnya. Atau pasangan. Mereka bisa tahu kalau hati kamu tuh sebenernya gak disitu.

Beberapa kali juga Arka nge-gap saya lagi balas chat disela-sela main sama dia. Dia bertanya,

“Mami, mami lagi apa mami?”
“Sebentar ya ka, mami kerja dulu sebentar ya”
— lupa beneran kerja apa nggak. Tp kayaknya sih iya. Asli freelance dengan jam kantoran itu gak baik buat mental ya bu-ibuk.
“Oh, okay”
Trus dilanjut, kayak yang 10 detik kemudian..
“Mami masih kerja mami? Udah selesai belum kerjanya?”

Dan kalau saya kelamaan megang hp, bos kicik ini yang gantian meng-occupy hp. Ya pindah-pindahin lagu di spotify lah, ya foto-foto lah pake kameranya. Intinya supaya saya gak pakai hp itu.

Oke, mulai sekarang akan saya coba dengan meeting time tadi. Supaya bisa fokus. Pasangan, anak, teman, rumah, semuanya. Termasuk me-time. Meeting dengan diri sendiri. Belajar berefleksi. Penting.

Harusnya bisa lebih fokus. Harusnya bisa set agenda untuk setiap pertemuan supaya targetnya semua tercapai.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *