Tidur Sendiri

Curhat Pengasuhan

Parenting bener2 gak gampang yaaa…
Belakangan ini saya dan suami banyak berbincang tentang apakah kami berdua adalah tipe orang tua yang terlalu memanjakan anak sehingga anaknya jadi spoiled. Ini karena beberapa hari belakangan, Arka di mata kami jadi lebih sering meledak-ledak emosinya. Kalau ada sesuatu yang dia mau dan kami bilang “tidak” untuk hal itu, dia akan nangis meraung2 sampai keluar air mata. Beberapa kali di Mall — walaupun tantrumnya masih terkendali — dia sampai duduk di lantai Mall dan nangis dengan suara yang astaghfirullah banget kencangnya. Arka juga sedang senang pukul dan tendang. Bukan ke anak orang, tapi ke kami berdua.

Entah karena memang mungkin lagi masa sensitifnya untuk menggerakkan tangan & kaki, kami merasa untuk beberapa hal dia sudah kelewatan. Intinya bikin emosi kita berdua — orangtuanya — ikutan roller coaster juga.

Seperti siang ini, saat saya dan Arka sedang main bersama. Saya minta dia untuk matikan mainan mobil-mobilannya yang pakai batere karena mobil-mobilan itu dinyalakan terus dan tidak dimainkan. Saya bilang, kalau dia tidak matikan mobilnya, saya yang akan matikan dan akan saya simpan. Trus dia cuek dong. Asyik main air di wastafel toilet tamu. Saya hitung sampai 3. Dia ngebeo “satu, dua, tiga”. Bener-bener ampun gustiii, bikin emosii.

Yasudah lah saya ambil mainan itu, saya matikan dan simpan. Seselesainya dia main di wastafel toilet, dia sadar bahwa suara mobil-mobilannya sudah gak ada. Sudah hening. Gak ada suara brrmm brrmm brrmm lagi. Trus dia tanya saya, “mobilnya Arka mana, Mami?”. Saya bilang sudah saya simpan.

“Simpan dimana?”

“Simpan di tempatnya.”

Langsung lah dia bongkar kotak tempat mobil-mobilan. Dan gak ketemu karena memang gak saya simpan di situ. Dia cari kemana-mana dan gak ketemu. Trus dia mulai cari-cari perhatian. Dia datang ke meja makan, dan dia pukul meja makan itu sambil lihat reaksi saya. Saya mendelik. Kemudian dia ambil penggaris kayu yang biasa saya gunakan untuk bikin pola pakaian, trus dia pukulkan ke meja. Disini emosi saya sudah naik tapi masih bisa ditahan. Saya berdiri, ambil penggaris kayu dan saya letakkan ke tempat semula. Arka masih ikutin saya dari belakang, dan saya di pukul. Juga di tendang.

Sakitnya sih gak seberapa. Karena memang pukulan dan tendangan anak kecil belum seberapa besar tenaganya kan. Area yang bisa dicapai juga area kaki (paha ke bawah) karena saya posisinya berdiri dan dia berdiri. Pukulan dia hanya kena ke paha saya. Dan tendangannya, kena ke betis lah ya paling tinggi.

Tapi saya marah. Saya diamkan dia. Tidak saya ajak bicara, sambil saya terus melanjutkan aktifitas. Saya beresin mainan dia — dia sadar kalau saya marah, dan ikut bantu beresin mainannya; saya ambil piring kotor sisa makan siang dan saya letakkan di sink; kunci-kunci pintu rumah; dan siap-siap naik ke lantai atas untuk tidur siang.

Arka nangis. Karena dia tahu dia salah dan saya marah. Saya pun gak jawab pertanyaan dia. Anak ini kalau ada orang yang marah sama dia, dia secara polosnya nanya “mami kenapa mami?”. Padahal dia tahu itu karena dia.

Dia ikutin saya terus sampai ke lantai atas. Saya tutup gorden kamar dia, nyalain AC kamarnya, trus lanjut hal yang sama ke kamar saya. Saya masuk kamar mandi untuk wudhu. Dia masih ngikutin saya kemana-mana. Trus saya ambil sejadah dan sholat sunnah. Dia duduk di samping saya, kadang tiduran di sejadah.

Selesai saya sholat Zuhur, saya minta dia masuk ke kamarnya dan saya bilang saya marah sama dia.

“Arka rasa gak kalau mami marah?”

“Iya” — sesenggukan

“Arka tahu kenapa mami marah?”

“Iya, tahu. Karena Arka pukul mami tadi”

“Boleh gak pukul mami?”

“Gak boleh”

“Baik gak?”

“Gak baik”

“Kenapa Arka pukul mami kalau tahu itu gak baik?”

“…” — dia diam, masih sesenggukan

“Arka marah karena mami simpan mobilnya?”

“Iyaaaaaa” — nangis makin kencang

“Mami simpan mobilnya karena Arka gak rawat dengan baik. Harusnya mobilnya dimatikan kalau gak dimainin. Kan tadi mami udah minta untuk dimatiin mobilnya, tapi Arka gak lakukan itu. Jadi mami simpan. Arka ngerti gak maksud mami?”

“Iya ngerti.”

“Jadi boleh gak pukul mami?”

“Gak boleh”

“Bilang apa sama mami?”

“Mami maaf ya tadi Arka pukul mami. Maaf yaaaaaaa”

“Mami maafin, tapi gak boleh diulangin lagi ya.”

“Iya”

“Sekarang mami minta Arka tidur di kamar Arka”

“Tapi Arka mau tidur sama mami”

“Arka sudah pukul mami tadi. Mami jadi marah. Supaya Arka ingat kalau itu tidak baik, siang ini Arka tidur sendiri”

Trus dia cryyyyyy. Makin deres tuh airmata. Bikin gak tega. Tapi demi konsistensi, jadi saya teruskan. Bismillah.

“Udah nangisnya? Yuk mami antar ke kamar Arka. Sini peluk dulu”

Trus dia peluk lamaa dan saya antar dia ke kamarnya. Saya ulangi lagi ‘why’ saya marah dan ini yang akan terjadi kalau saya marah. Semoga seterusnya dia ingat ini.

“Mami mau sholat ya?”

“Iya”

“Tapi Arka mau tidur sama mami”

“Tapi gak bisa. Karena Arka sudah bikin mami marah tadi. Jadi siang ini Arka tidur sendiri”

“Maaf ya mami. Maafin Arka yaaa” — bikin saya berkaca-kaca banget

“Iya dimaafin. Tapi Arka tetap tidur sendiri siang ini ya. Mami ada di kamar sebelah, gak kemana-mana. Sekarang baca doa mau tidur dulu. Bismika..”

“Allahumma ahya wa bismika wa amuut”

“Tutup matanya ya. Selamat tidur, I love you.”

“Selamat tidur mami. I love you”

Dan saya tutup pintu kamarnya. Saya masih mendengar sayup-sayup suaranya dari balik tembok kamar. Tapi 15 menit kemudian dia sudah lelap.

Parenting gak pernah mudah yaa guys. Penuh air mata banget juga. Dulu saya pikir hidup akan lebih mudah kalau anaknya sudah bisa bicara dan mampu berkomunikasi. Ternyataaaaaa……..

Makin susah yaaa! Tantangannya nambah. Semoga saya dan suami serta seluruh orang tua dimana pun kita berada selalu dimampukan untuk bisa menjaga & mendidik anak sesuai fitrahnya yaa. Aamiin yaa robbal alamiin.

Saya belajar dari pengalaman siang ini. Dan semoga maksud saya tersampaikan dan bisa dimengerti oleh Arka. Aamiin.

Terima kasih sudah membaca ya. Sampai bertemu di curhat pengasuhan berikutnya~

Stay healthy & stay sane, dear parents.
Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *