Throwback: 20 September 2012

Personal Thoughts

So, I just found this draft hiding quietly in my draft section. Kinda throwback moment for me as I wrote this right after my thesis defense :”). It will be a supeerrrr late post, yea I know. But better late than never, right? And as I read this draft again, I suddenly realize that I still can’t move on from Bandung. Too much feeling involved…

Hey Bandung, miss me? :”)

——-

Bandung, 21 September 2012.

Ada pepatah yang mengatakan “If you want to know yourself more, do travel“.

Saya sepenuhnya sepakat dengan kalimat itu. Dengan bepergian kita dapat melihat diri kita dari sudut pandang yang berbeda, apalagi bila bepergiannya dilakukan sendiri. Traveling alone. Tapi saya ingin menambahkan satu poin, yaitu ‘research‘. Benar traveling mengajarkan kita banyak hal. Saat traveling kita bisa mengetahui apakah kita bisa menjadi pribadi yang mudah berinteraksi, membaur, humble, percaya diri, bisa diandalkan, menjadi si pembuat keputusan, dan percaya bahwa akan selalu ada orang baik. Tapi dengan ‘doing research‘ mengajarkan kita tentang ketahanan, ekspektasi, high demand, optimisme, pesimisme, dan karakter-karakter lain yang akan muncul dari diri kita sendiri. Lucunya, semua itu muncul karena keadaan. Rasanya kita dituntut untuk betul-betul menantang diri sendiri. Ini mungkin ya yang namanya ‘harga diri’, merasa kalah dengan ekpektasi sendiri kalau menyerah di tengah jalan.

Saya senang traveling. Dan ‘doing research‘ adalah hal yang lain. Betul-betul 2 hal yang berbeda, namun saya bersyukur keduanya mengajarkan tentang sifat diri sendiri yang kadang kita tidak tahu dan tidak sadar.

Alhamdulillah saat saya menulis ini saya telah menyelesaikan satu tahapan yaitu sidang tesis. Alhamdulillah sudah dinyatakan lulus dan sekarang menunggu wisuda di bulan Oktober. Saya ingat di tanggal 1 September yang lalu saya menuliskan status di BBM: “wake me up when September ends“. Sesungguhnya kalau boleh jujur, saat itu adalah saat dimana saya lagi pesimis-pesimisnya..

Ketika melakukan satu riset yang seharusnya ordenya tahunan namun diawal telah dibuat ekspektasi yang tinggi terhadap diri sendiri, ketika itu tidak tercapai rasanya stress. Iya. Sangat. Misalnya seharusnya dari A-Z namun dalam kenyataannya baru sampai D saja kemudian muncul lambang-lambang lain ditengahnya yang bukan huruf alphabet. Harus diselesaikan dulu agar dapat kembali ke jalan yang benar. Saya mengalami itu. Dan mungkin pembimbing saya melihat hal itu juga. Desperate adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi waktu itu.

Di awal September itu saya tidak melihat diri saya sebagai calon wisudawan Oktober. Tapi ternyata apapun bisa terjadi dalam 3 minggu. Gak tenang tidur, gak enak makan, rasanya jantung dan otak dipakai secara over load selama 3 minggu itu. Kalau bisa teriak mungkin mereka akan teriak.

It was an upside-down journey. Long road. But yes, everything’s began with a single step and continuous steps after that. Slow but sure, run and try not to fall too hard. Bumpy road.

The day before my thesis defense, I remember having butterflies in my stomach. Slept after midnight.

Sehari sebelum sidang itu juga, masih bingung slide mana saja yang harus dibuang supaya cukup waktu 20 menit presentasi (sehari sebelum sidang, slide saya berjumlah 60-banyak gambar). Seriusan deg-degan. Beribu-ribu kali lipat rasanya dari sewaktu sidang sarjana…

~p.r.p.l.p.h.r.z

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *