“Terima Apa Adanya?”

Personal Thoughts

Kalian sering mendengar frasa itu gak? “Terima orang ya apa adanya”? Mau itu ditujukan untuk teman, sahabat, pacar, suami, istri, pegawai, bos, dll. Kecuali anak yaa, beda ceritanya itu sih. Karena anak bisa diarahkan oleh orangtuanya.


Kalau menurut arti katanya, “acceptance” artinya:
the act of accepting something or someone : the fact of being accepted : APPROVAL

Menurut saya, “terima apa adanya” itu diperuntukan bagi orang pemalas, yang tidak mau susah berusaha mempertahankan relationship-nya. Padahal “Penerimaan” ini hanya berlaku untuk satu waktu saja. Kalau misalnya dianalogikan sebagai dua garis lurus yang saling berpotongan, ya ketika garis ini berpotongan lah, itu yang disebut saat acceptance itu. Tapi apakah acceptance itu berlaku seumur hidup tanpa kondisi dan tanpa kecuali? Belum tentu.

Sejatinya dalam hubungan, dua pihak ini patut untuk saling menyesuaikan diri satu dengan yang lainnya. Titik acceptance tadi merupakan sebuah awal. Bahwa mereka pada satu titik akhirnya bisa bekerja bersama dan mempunyai kesamaan. Baik itu visi, misi, pandangan hidup, prinsip2, hobby, dan lain sebagainya. Dan tidak dengan serta merta setelah proses acceptance di awal ini dijalani kemudian langsung gugur semua tanggung jawab untuk selalu memberikan versi yang terbaik dari dirinya dan tidak bekerja keras untuk mempertahankan hubungannya.

Kembali lagi ke analogi garis tadi. Ada dua garis yang saling berpotongan. Setelah berpotongan, mereka mungkin akan saling menjauh lagi sesuai dengan perbedaan sudut yang ada. Menurut saya ini lumrah. Tapi dua belah pihak harus cepat saling sadar dan saling menyesuaikan lagi. Dengan cara banyak komunikasi dengan pihak yang lainnya. Sehingga garis yang tadinya menjauh, bisa mendekat lagi, dan mulai berpotongan lagi. Dan membentuk pola garis “infinity“, yang selalu bisa dapat menyambung kembali, sejauh apapun pisahnya.

Dalam setiap relationship, harus selalu ada pihak yang cepat sadar dan kembali meluruskan hal-hal kecil yang sekiranya dapat menjadi besar. Dan dalam setiap relationship itu juga, dua-duanya harus mau untuk bekerja keras supaya acceptance itu saling terjadi. Hanya dengan proses kedewasaan ini lah bisa menciptakan healthy relationship yang tahan lama bahkan seumur hidup.

Jadi, masih percaya dengan kalimat “terima apa adanya”?

Kalau saya sih, tidak πŸ™‚

May you all have a healthy relationship.
Because healthy relationship leads to a healthy life πŸ™‚

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *