Tentang Tumbuh

100 Hari Menulis Dear Kid MOTHERHOOD

Kira-kira sebulan yang lalu, saya mengajak A untuk kontrol gigi pertamanya. Di perjalanan dia happy. Saya sudah afirmasi dari jauh-jauh hari tentang apa itu rumah sakit, siapa itu dokter gigi, di dalam ruang periksa akan diapakan itu giginya, kalau tante dokter minta buka mulut harus buka yang lebar, dan lain-lainnya. Di rumah dia mendengarkan dengan seksama, dan angguk-angguk tanda (sepertinya) mengerti.

Sesampainya di rumah sakit, saya ajak dia berkeliling rumah sakit. Dan A surprisingly behave loh. Ditimbang mau, diukur tinggi badan mau. Masuk ke ruang periksa mau, dadah-dadah sama suster dan dokternya juga. Yaa, dia tetep nangis sih pas didudukin di kursi periksa padahal saya pangku. Padahal juga sambil nonton kartun. Well, saya selalu no expectation sih setiap pergi bawa A, jadi menurut saya dengan dia udah behave aja gini udah prestasi. Hahaha.

Hasil periksanya alhamdulillah kondisi giginya baik. Belum terlihat karies. Walaupun giginya berantakan, karena rahangnya yang kecil, tapi gak papa katanya. Gak ada yang bisa dilakukan juga sih di umur dia yang masih 2 tahun ini selain rutin gosok giginya. Dokter yang saya temui ini termasuk aliran yang “gak perlu pasta gigi berfloride selama anaknya belum bisa kumur dan lepeh airnya”. Jadi yang penting biasakan saja sikat gigi. Sekarang sih A sudah saya kasih pasta gigi sedikit banget. Walaupun adalah sepersekiannya yang sama dia di emut-emut, sisanya baru di lepeh.

Ini termasuk telat sih, katanya harusnya dari gigi pertama tumbuh sudah mulai di konsulkan ke dokter gigi. Lah ini A, gigi udah hampir full untuk ukuran gigi anak baru di konsulkan. Itung-itung pengenalan lah yaa ke tante dokter šŸ™‚

Tapi disini ada scene yang bikin saya terharu. Anak ini, di tempat yang baru dikunjunginya (kami pindah rumah sakit karena pindah rumah, cari RS yang dekat dengan rumah baru), bisa-bisanya jalan wandering sendirian dan gak nyariin saya dong. Udah jauh baru deh dia nengok belakang dan manggil-manggil saya. Seketika itu saya merasa dia udah besar ya.. Dia bertumbuh. Dan hormon Ibu (iya saya bilang mellownya mamak-mamak itu hormon Ibu) saya langsung nyess gitu loh. Kok ya mendadak sedih bangga bahagia terharu tapi sekaligus deg-degan yaa.

Anak ini berani sekali. Dia gak tau ada apa di depan sana, tapi selama dia tahu ada saya di belakangnya, dia terus maju. Mungkin itu kali yaa arti “Tut Wuri Handayani” sesungguhnya. Ish, mentang-mentang udah jadi orang tua, itu semboyannya Ki Hajar Dewantara mengenai sistem pendidikan itu nancep banget deh, baru bener-bener berasa sekarang aplikasinya. Karena anak bocah satu ini..

The world is big, son.

But I really hope your heart is bigger.

In case you need more heart,

Remember, you will always have mine.

I love you.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *