Tentang ‘Self Healing’

Diary #Arsyanendra Personal Thoughts Spiritual Journey

Ketika mendengar ‘Self Healing’, apa yang ada di pikiran teman-teman semuanya?

Self healing ini adalah semacam proses untuk penyembuhan diri sendiri. Pada dasarnya, setiap manusia pasti mempunyai kemampuan ini. Kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri. Hanya saja, di sini konteksnya bukan luka fisik, melainkan luka batin. Luka yang mungkin awalnya tidak kita sadari, tapi sering kali sebagai bukti nyata bahwa dia ada, itu akan memicu respon yang bisa kita timbulkan secara otomatis dan di bawah ambang sadar kita.

Adapun luka-luka tersebut mungkin kalau kita diminta untuk ingat-ingat apa yang menyebabkan itu terjadi, kita tidak akan pernah bisa menjelaskannya secara detail. Hanya saja bekasnya ada. Bisa disebabkan oleh banyak hal, termasuk diantaranya bisa didapat dari pola pengasuhan masa kecil, interaksi keluarga, interaksi dengan teman, pacar, dan lain sebagainya. Intinya, luka-luka itu menjadi terbuka karena kita bergesekan secara emosi dengan emosinya orang lain. Jadi pasti ada sebab dan akibatnya.

Saya baru menyadari bahwa saya mempunyai salah satu dari luka tersebut setelah saya menikah dan mempunyai anak. Saya yang akhirnya memutuskan untuk berkarier di rumah, otomatis akan membuat saya semakin banyak berinteraksi dengan orang rumah yaitu suami dan anak. Dan saya menyadari, semakin banyak saya berinteraksi dengan mereka, saya mengeluarkan banyak respon error yang tidak saya sadari sebelumnya kalau itu ada. Semacam ada alam bawah sadar saya yang mengendalikan itu semua sehingga saya mengeluarkan sikap yang saya sesali di kemudian hari — ketika suasananya sudah baik lagi dan saya sudah bisa berpikir dengan lebih jernih.

Saya merasa bahwa ‘ini tidak baik-baik saja’ dan ‘sepertinya ada yang salah dengan diri saya’ karena saya cenderung bersikap super reaktif, mudah tersinggung, dan mudah marah, terhadap hal yang sebenarnya merupakan hal kecil dalam relationship-nya suami-istri. Saya mulai berpikir apa yang menyebabkan saya bersikap berlebihan. Dan semakin saya berpikir, saya semakin yakin kalau itu ada hubungannya dengan pola asuh yang tidak sengaja ditanamkan ketika saya kecil dulu.

Ketika saya kecil, selalu ditanamkan untuk aim for perfection. Harus terus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tapi di lain sisi, ketika ada sesuatu hal yang sekiranya berpotensi masalah, sebisa mungkin harus dihindari. Itu menjadikan diri saya yang sekarang. Saya yang sekarang cenderung punya ambisi besar, selalu mencoba untuk menjadi sempurna dan menuntut kesempurnaan.

Sebenarnya itu baik. Saya pun berpikir bahwa pola asuh seperti itu baik. Hanya saja kalau saya boleh revisi untuk diterapkan kepada pola asuh #Arsyanendra nanti, saya mau dia aim for perfection dengan tidak menutup mata terhadap imperfection. Ketika menemui ketidaksempurnaan, ketidakteraturan, dan ketidakpastian tidak boleh kesal dan marah. Work for it. Work on it. Karena sejatinya juga, di dunia ini kan tidak ada yang sempurna. Oh ya, saya juga mau bilang ke #Arsyanendra nanti, kalau ketemu masalah, jangan dihindari, tapi diajak kenalan dan belajar tentang apa yang bisa diperbuat untuk meminimalisasi masalah tersebut. Jangan dihindari. Hadapi.

Pola asuh yang saya terima untuk selalu menghindari masalah membuat saya selalu bekerja keras untuk menjadi sempurna dengan harapan ketika menjadi sempurna maka tidak akan ada lagi masalah yang datang. Padahal masalah bisa saja diakibatkan oleh hal-hal lain di luar kendali kita kan. Dan tidak bisa seperti itu juga ketika kamu sudah menikah, punya anak, dan punya usaha sendiri kan ya? Selama hidup pun gak akan ada orang yang terbebas dari masalah. Bahkan setiap harinya masalah akan datang dan upgrade dengan sendirinya. Semakin dewasa, semakin kompleks pemikiran, semakin besar usaha, pasti semakin besar pula masalah yang harus dihadapi.

Saya sudah mengkomunikasikan ini juga ke suami. Alhamdulillah suami menerima dan dia mau mengingatkan saya kalau-kalau saya off limit lagi πŸ˜€

Semoga setelah saya menerima dan mengakui hal ini membuat saya lebih mindful dan bisa lebih sadar juga bisa lebih memaknai setiap peristiwa dan kejadian yang pernah saya alami dengan lebih sehat.

Bagaimana kita bisa menciptakan emosi yang sehat kalau kitanya pun belum selesai dengan emosi kita sendiri?

Semakin umur pernikahan saya bertambah, semakin anak kicik tambah usianya, rasa-rasanya saya pun jadi semakin mengenal diri saya sendiri. Yang mungkin gak terlalu saya kenal sebelumnya πŸ™‚

Benar-benar pernikahan itu blessing yaa..

Yuk, semangat untuk mengenal diri sendiri! Karena hanya orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri lah yang mampu menjalani kehidupan dengan kualitas yang lebih baik, semangat optimisme, dan penuh ketenangan.

#2019AimForMindfulness

Cheers,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *