Suka Duka Menjadi Work-at-Home-Mom

Personal Thoughts

Hi, guys!
Akhirnya bisa kembali ngeblog lagi. Sesuai judul post, kali ini saya mau coba sharing tentang suka duka menjadi work-at-home-mom yang saya rasakan selama 6 bulan saya menjalaninya.

Sebelum memutuskan menjadi work-at-home-mom, saya adalah karyawan swasta di sebuah konsultan MEP yang pusatnya di New Zealand. Saya memutuskan untuk mulai bekerja di rumah dan merintis usaha konsultan saya sendiri semenjak #Arsyanendra usianya 10 bulan.

Ini bermula dari si anak bayik yang mulai paham kalau ditinggal kerja. Dan beberapa kali saya dapat laporan dari orang rumah, katanya dia nangis setiap melihat foto saya. Padahal fotonya pun foto keluarga yang digantung di dinding rumah. Sementara saya pergi kerja, mas bayik dan nanny-nya saya titip di rumah orangtua saya karena saya masih belum berani untuk lepas mereka berdua saja di rumah. Antara nanny dan orangtua saya pun jarang ada kecocokan, setiap saya pulang selalu banyak ceritanya. Itu pun saya sudah coba ganti nanny berkali-kali.

Jadi dari sinilah drama kegalauan saya dimulai, karenanya saya berpikir sepertinya psikisnya mas bayik bisa bermasalah kalau pola pengasuhan seperti ini diteruskan. Bayangkan saja, dia sudah harus saya persiapkan sejak jam 5 pagi, karena jam 6 saya sudah harus drop dia dan nanny-nya ke rumah orangtua saya. Kemudian dia makan, mandi, susu, makan lagi, mandi lagi, susu lagi, dan berulang terus sampai dia tidur malam. Saya sendiri baru sampai rumah paling cepat ketika magrib tiba. Dan si anak bayik sudah tidur (karena bangunnya juga jam 4 pagi, ikut jadwal harian saya). Saya mulai berpikir bahwa sepertinya gak ada gunanya pergi pagi-pagi sekali dan pulang ketika dia sudah tidur. Di masa galau saat itu, selain juga berdoa dan memperbanyak tahajud, alhamdulillah tiba-tiba mulai banyak berdatangan pekerjaan konsultan sampingan yang bisa saya kerjakan secara mandiri. Mulai datang satu, dua, lama-lama menjadi banyak dan saya mulai kewalahan membagi waktunya. Pernah dalam satu minggu waktu tidur saya hanya 3 jam setiap harinya, karena pekerjaan “sampingan” itu yang hanya bisa saya kerjakan setelah saya sampai di rumah dan ketika mas bayik tidur.

 

Mas bayik yang bangunnya super pagi. Jam 4 pagi! Karena ikut rutinitas mamaknya buat siap2 ngantor.

 

Ditinggal mamak kerja

 

Main-main di rumah Kipi Nimi

 

Posisi setiap mau dijemput pulang

Akhirnya resmi lah saya resign dari kantor dan memulai karir di rumah. Sebagai ibu rumah tangga sekaligus konsultan independent.

Setiap orang-orang yang bertemu dengan saya dan tahu bahwa saya bekerja di rumah, responnya selalu positif.

“Wah enak banget di rumah kerjanya, bisa santai sambil urus anak”

“Ini dream job banget sih, kerja dirumah sambil liat anak”

Well, iya saya tidak menyalahkan mereka untuk mengeluarkan respons seperti itu, tapi lewat postingan ini saya ingin berbagi apa yang saya alami. Semoga bisa diambil hikmahnya ya.

Last day

Ketika memutuskan untuk bekerja di rumah, yang saya rasakan adalah rumah tidak lagi menjadi tempat ternyaman. Karena rumah berfungsi sekaligus sebagai tempat kerja. Selain itu, sebagai ibu yang bekerja di rumah, wajib kudu harus menguasai semua jenis manajemen: proyek, waktu, uang, sampai ke manajemen diri sendiri yang berhubungan dengan self-discipline. Nah ini problem baru untuk saya. Kalau dulu di kantor, bagian tentang manajemen ini yang di handle sendiri adalah hanya yang berhubungan dengan diri sendiri, ya dong? Nah karena saya kerjanya di rumah, maka otomatis ini semua menjadi pekerjaan saya. Kalau dulu di kantor ada admin, teman-teman finance, dan teman-teman legal yang memang job desc-nya adalah untuk buat invoice, surat kontrak, dll; sekarang semuanya harus di handle sendiri juga. Dan kesemua manajemen ini seringnya beririsan dengan kebutuhan keluarga dan pribadi. Contoh, finance management, ini beririsan dengan keuangan keluarga dan keuangan kantor. Otak harus pinter-pinter switch ke anggaran mana yang mau dipakai untuk mikir. Bae-bae panas kepala saking pusingnya.

Sumber pendapatan pun jadi berubah. Kalau dulu ada pendapatan tetap yang bisa kita andalkan, sekarang sudah tidah bisa lagi seperti itu. Harus pinter-pinter banget deh pokoknya, dan sudah pasti ada anggaran yang di cut. Harus juga punya target dan goals yang jelas dan achievable, dan target-target ini dibuat per hari ya. Kalau gak per hari sih udah bablas keasikan gabut. Terus dari segi lingkungan pergaulan juga lebih sempit sih jatohnya, karena lingkungan kerjanya ya hanya seputaran rumah saja. Kecuali ada meeting di luar. Kalau jujur yaa, saya super kangen banget sama ngantor di luar ya sebagian besar karena part yang ini nih, sepiii banget ngantor di rumah. Temen ngobrol cuma anak bayik sama suami, ya gak sih?

Oke, dari tadi saya sepertinya bahas tentang kurang-kurangnya yaa. Sekarang coba saya bahas dari sisi positifnya yang dapat saya lihat dari pengalaman 6 bulan bekerja di rumah ini:

Yang saya rasakan pertama banget adalah kesempatan untuk adanya bonding time dengan anak jadi lebih banyak. Saya pun termasuk yang mengedepankan konsep quantity and then quality, jadi kuantitasnya dulu yang diperbanyak, baru memperbaiki kualitasnya. Alah bisa karena biasa dan tak kenal maka tak sayang, begitulah kira-kira prinsip saya. Saya rasakan di #Arsyanendra ini, dalam 6 bulan terakhir sudah jarang drama-drama yang membuat saya sakit kepala muncul. Anaknya alhamdulillah sudah bisa diajak diskusi, walaupun belum bisa balas omongan saya, tapi saya yakin betul kalau dia paham apa yang saya bicarakan. Saya pun merasa jadi lebih bisa berkomunikasi dengan anak. Mulai bisa mengerti maksud dari celotehan-celotehan anak dan nyambung kalau diajak “ngobrol” pakai bahasa bayik. Anak pun jadi gak gampang frustasi karena saya lebih cepat tangkap maksudnya apa. Untuk tumbung kembangnya pun jadi bisa lebih peka dan lebih terperhatikan. Hari ini dia bisa apa, besok bisa apa, dll dan bisa jadi bahan diskusi juga dengan suami. Menyenangkan juga sih bisa jadi saksi hidupnya mas bayik di masa awal-awal ini :'”)

Memang kalau dilihat, banyak plusnya yang berhubungan dengan anak. Tapi kalau saya ditanya, capek mana kerja di luar rumah atau kerja di rumah? Saya dengan yakin bisa bilang, kerja di rumah jaauuuuuhhhhhh lebih capek daripada kerja di luar rumah. Ketika kerja di luar rumah, maka kita sepeti bisa set boundaries bahwa apa yang terjadi di luar rumah stay disana dan gak dibawa-bawa ke dalam rumah. Lah kalau tempat kerjanya di rumah? Hahaha aja deh. Belum lagi kalau ada konflik-konflik yang lain.  Ya begitulah menurut saya.

Dan ternyata, untuk bekerja di rumah pun diperlukan skill khusus yaitu skill belajar secepat kilat. Kita dituntut belajar tumbuh kembang anak, financial management, time management, dan project management dalam satu waktu. Saya kalau gak ingat cerita dan motivasi awal mula memutuskan untuk resign dulu, mungkin sudah kibar-kibar bendera putih dari kapan tau. Lelah akutuu.

Pengennya sih, tinggal fokus ngurus anak doang gak usah ambil kerjaan lagi. Tapi trus inget biaya hidup, biaya pendidikan anak, niat mau liburan sekeluarga terus setiap semester, target first class setiap terbang, endebrei endebrei. Saya banyak banget maunya emang, hahaha.

Jadi mari kita nikmati perjalanan ini. Buat kalian yang senasib dengan saya, semangat! Yuk saling support. Menjadi ibu tanpa bekerja di bidang yang lain saja sudah berat, ditambah yang lain jadi makin-makin beratnya. Semoga kita semua bisa sukses di dunia dan akhirat kelak ya!

May the force be with us! 🙂

Group hugs!

Ketika masih jadi pejuang ASIP dan mamak ngantoran

Xoxo,

Amy

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *