Sharing pada Batita, Bisakah?

Curhat Pengasuhan

Memasuki umur Arka 2.5 tahun, terus terang merupakan fase belajar juga untuk saya & suami sebagai orang tuanya. Adanya energi yang kami rasakan sangat berlebih, luapan emosi yang maksimal, hujan kata-kata yang super banyak, seeking attention yang luar biasa, sudah mampu berdebat & mempertahankan pendapatnya, ego yang selangit, dan super pecicilan; kadangan membuat energi kami yang belum juga 1 hari, sudah habis duluan.

Salah satu yang saya lihat jelas adalah kemauannya untuk tidak mau mengalah dan tidak mau sharing untuk beberapa mainannya. Kalau mainan itu adalah mainan favoritnya, dia akan mempertahankannya mati-matian. Biarpun dibujuk untuk tukar, gak akan mau. Ketika saya tanya ke dia kenapa dia gak mau tukar/pinjamkan ke temannya? Jawabnya adalah “tapi ini mainan Arka. Arka suka ini. Arka gak mau pinjam. Gak boleh, Mami”.

Sementara ini saya selalu bilang sama dia, kalau dia suka dengan mainannya dan tidak mau ada temannya yang berkunjung untuk pinjam mainannya, sebaiknya mainan favoritnya itu tidak dia kasih lihat. Kalau dia mau kasih lihat, konsekuensinya ya harus sharing. Bermain bersama. Kalau gak bisa, ya saya ambil mainannya. Saya yang simpan, dan hanya boleh dibuka nanti kalau temannya sudah pulang.

Sejujurnya saya memahami perasaan itu. Menurut saya itu wajar. Tidak berbagi untuk beberapa hal yang menurut kita hanya boleh untuk kita, apalagi itu MEMANG PUNYA KITA, itu boleh. Apalagi anak seusia ini yang baru meraba-raba arti konsep kepemilikan. Menurut saya sudah sewajarnya untuk mengenali bahwa ini punya kita, boleh kita mainkan. Dan juga sebaliknya, bahwa ada barang-barang milik orang lain yang belum tentu kita boleh mainkan. Harus minta ijin dulu dan gak boleh maksa kalau memang gak diijinin untuk pinjam.

Menurut saya konsep seperti ini penting. Sepenting itu. Saya mau kalau pun dia merasa ingin sharing itu bukan karena paksaan. Bukan serta merta karena saya yang minta dia untuk share mainannya, hanya demi anak lain bisa main. Saya mau dia sharing dengan sukarela. Yang mana saya tahu, itu bisa terjadi kalau proses awal tentang konsep kepemilikan ini bisa terlewati dengan baik.

Saya percaya akan ada masanya anak mau share. Ketika dia sudah puas mainnya, atau mungkin ketika dia mau tukeran mainan ke teman-teman yang lain, pasti dia akan share 🙂

Seperti sabtu lalu, di pengajian kami di Bogor, ada acara Maulidan. Karena ada sholawatan dan pembacaan barjanji, ada rebana dan teman-temannya. Arka excited untuk lihat. Tapi karena areanya area Masjid yang anak-anak gak boleh berisik, saya bawakan dia stiker. Supaya duduk anteng & fokus ke copot pasang stikernya. Eh ternyata stikernya Arka menarik perhatian anak-anak kecil di sekitarnya. Dan mereka minta stiker itu. Disini saya lihat kalau Arka kaget karena mereka datang cepat sekali secara bergerombol, kayak semut kalau dikasih gula. Tapi Arka dengan sigapnya di copotnya satu-satu stiker itu dan dibagi-bagikannya ke anak-anak lainnya.

Meleleh hati tuh :”)

Parenting tuh gitu yaa.. Baru berasa bener kalau udah ngelihat hasilnya, hahaha. Selama belum kelihatan hasilnya sih, seringnya yang ada mom-guilt nya itu. Rasa selalu bertanya-tanya “Am I doing it right?”. Yaa walaupun katanya gak ada yang benar atau salah sih dalam parenting itu 🙂

Yang kayak gini mau gegayaan homeschool-homeschool segala itu gimana cobaaa. Apa gak seumur hidup itu was-wasnya :))))

Terima kasih sudah membacaa. Sampai bertemu di Curhat Pengasuhan berikutnya ya!

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *