Sekolahnya Dimana?

Curhat Pengasuhan

Semenjak kami pindah rumah dan Arka sering main di komplek ini, sering banget tetangga yang lihat Arka itu nanya ke saya. Apalagi kalau bukan perihal umur dan sekolah. Jadi ketika mereka lihat perkembangannya Arka, asumsi mereka adalah anak ini umurnya minimal 3tahun. Padahal Arka masih 2 tahun 5 bulan. Katanya karena bicaranya cepat & jelas, rangkaian kata-katanya banyak, motoriknya aktif, mau ngobrol ke sekitar, dan tinggi badannya — walaupun masih ngos-ngosan juga ngejar berat badannya; yang seperti anak 3 tahun. Padahal belum.

Ketika saya jawab kalau Arka masih 2 tahun, pertanyaan mereka berikutnya adalah:

“Masih 2 tahun? Masa sih? Sekolahnya dimana?”

Nah ini.. tentang sekolah.

Masih jadi topik pembicaraan juga sih di kami, orangtuanya. Tapi sejauh ini, saya dan suami sepakat belum akan menyekolahkan Arka secara formal. Setidaknya sampai dia usia SD.

Trus dia gak belajar dong?

Belajar. Tapi di rumah. Sama saya, ibunya.

Di usia-usia preschool ini, saya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sama dia. Memperbanyak interaksi. Dia tahu jadwal dan kebiasaan kami sehingga (semoga) menjadi rutinitas juga untuknya di kemudian hari. Tahu mana yang kami suka dan tidak suka. Lebih ingin juga menanamkan pendidikan akhlak dan moral sambil diselaraskan dengan kebutuhan perkembangan motorik, kognitif, dan aspek perkembangan lainnya. Sosialisasi dengan sekitar kami rasa sementara cukup dengan playdate, library day, dan play ground day seminggu sekali.

Arka pernah saya masukkan ke Gym anak. Tapi karena lokasi gym tersebut di Mall dan kelas paling paginya jam 10 pagi, dia udah gak fresh karena kebiasaan anak ini bangunnya lumayan pagi. Jadi ketika selesai gym, dia bisa tuh tidur seharian dari jam 13 sampai jam 17. Skip snack dan susu, dan bangunnya super cranky. Beberapa kali malahan dia gak mau bangun, gak mau makan, maunya susu aja trus lanjut tidur lagi. Fix dia kecapekan. Padahal mainnya gitu-gitu aja. Karena anak-anaknya banyak (satu ruang gym bisa 20an anak + pendamping) jadi antri mainnya dan opsi mainnya juga jadi sedikit.

Kami — saya dan suami — pikir sepertinya kelas dengan anak yang banyak belum cocok untuk Arka, dan mungkin dia over stimulated juga disana. Arka sih senang-senang saja ikut kelas gym seperti itu, cuma udahannya itu yang bikin mood hilang. Mood maminya terutama sih karena cranky banget. Hahaha. Bisa juga tuh dia bangun, maunya digendong sama saya. Minta saya turun naik tangga sambil gendong dia karena katanya “Arka capekkkk”.

Dan ini berlangsung kurang lebih 3 bulan. Dari dia usia 2 tahun sampai 2 tahun 3 bulan. Gak ketemu-ketemu ritmenya. Dan akhirnya saya berhentikan gym-nya. Setelah itu ritme hidup dan jadwalnya dia kembali normal. Cukup lah dengan dia roll depan, naik papan titian, dancing pinkfong, dan sepedahan depan komplek untuk stimulasi gerak badannya.

Saya pun sebenarnya sudah survey ke sekolah-sekolah sekitaran rumah. Tapi entah kenapa, sekolah yang katanya bagus pun (rekomendasi teman & saudara) kami gak sreg. Well, kami disini lebih ke saya sih karena suami mah ikut-ikut saja hasil keputusan saya.

Dimulai dari kelas yang cukup banyak muridnya (menurut saya). 1 kelas ada minimal 15 anak dengan 2 guru — menurut saya jumlah gurunya kurang karena rasionya jadi 1 guru megang 7 anak dong yaa?

Ada yang gak ada playgroundnya. Ada yang ada playgroundnya yang menurut saya super lengkap dan Arka juga berbinar-binar matanya pas lihat playground, tapi tidak bisa diakses secara bebas karena harus sesuai dengan jadwal kelasnya. Yah kurang lebih cuma 1x seminggu bisa pakainya, itu pun 15-30menit. Belum kalau hujan yaaa.. Untuk anak yang motorik kasarnya lebih cepat berkembang sih ini gak masuk kriteria banget. Guru-gurunya pun terlihat capek dan lelah karena anaknya banyak yang harus diurus dan belum bisa ngerti kalau dikasi perintah. Saya aja juga walaupun megangnya cuma 1 anak, anak sendiri, kadang lelah juga kaan. Itu aja rasionya 1:1. Gimana 1:7?

Atas dasar itulah kami memutuskan untuk sementara meng-homeschool kan Arka, lagipula orangtua tetap guru yang utama ya kan. Dia tetap main, belajar, dan bersenang-senang tapi sama saya. Kalau weekend sama bapaknya. Tempatnya belajarnya bisa dimana aja. Di rumah, di perpustakaan, toko buku, playground (alhamdulillah banget Bintaro ada pilihan playground yang mumpuni), taman, dan lainnya.

Dan karena itu pula, kami berniat untuk mendokumentasikan semua kegiatan Homeschool-nya. Saat ini belum mulai secara terstuktur sih. Masih dalam proses set up ruangan dan kumpulin materi-materi dan kurikulum ajarnya. Sejauh ini dia kooperatif dan selalu excited belajar di rumah sama maminya. Bahkan dia yang minta-minta untuk belajar. Saya berencana untuk mulai semua ini saat usianya 2.5 tahun. Awal Januari nanti lah kira-kira.

Semoga dengan ini dia tahu bahwa belajar itu adalah proses seumur hidup dan tempatnya gak melulu harus di sekolah. Semoga gak ada keluar dari mulutnya kata-kata “aku capek belajar di sekolah. Sekarang mau tidur aja di rumah” — karena dulu ada masa-masa saya bicara seperti ini :))

Dan semoga ke depannya dia bisa jadi pembelajar mandiri. Itu life goal-nya sih. Karena pendidikan itu sejatinya marathon, bukan sprint.

Saya belum tahu sampai kapan saya akan homeschool-kan Arka. Dia pun tetap akan saya ikutkan ke kelas-kelas lepas dan mungkin les musik atau klub olahraga. Tapi untuk saat ini sepertinya sudah cukup sembari kami membangun rutinitas yang positif dan produktif.

Tapi challenge terbesar untuk saya tetap ini sih.. mengendalikan emosi :))

Sekarang Arka kalau ditanya sudah sekolah atau belum, dia selalu bilang sudah. Trus ditanya “sekolahnya dimana?”. Dia akan jawab, “di rumah, sama Mami Amy”.

Such a heart warming answer.

Sampai bertemu di curhat pengasuhan berikutnya, terima kasih sudah membaca 🙂

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *