Reconnect

PERSONAL THOUGHTS

“Do not jugde people. Cause everybody is fighting their own battle”

Familiar dengan quote di atas?

Sejujurnya itu adalah quote ter’ngena’ untuk saya, untuk gak segampang itu menilai orang dan memberi ‘label’ ke orang.

Lo gak akan pernah tahu apa yang mereka hadapi sehingga mereka berbuat seperti itu. Apa yang ditunjukin di ranah maya tuh mungkin hanya secuil. Secuil pencapaian, secuil gambar, secuil karya, secuil emosi, dan secuil-secuil yang lainnya.

Pasti ada battle yang mereka hadapi. Dengan temannya, pasangannya, anaknya, keluarganya, koleganya, bahkan sama diri mereka sendiri juga battle terjadi gak habis-habis. Yang beda hanya merasa atau tidak merasanya saja.

Dan dari battle-battle yang mereka lalui, ada wisdom yang bisa diambil. Kata-kata bijak yang mungkin bisa di quote juga.

Orang-orang hebat di bentuk karena tempaan yang keras, oleh kehidupan. Tapi gak banyak yang mau membagi ceritanya.

Jadi kalau saya sekarang, alih-alih mengamati orang lewat sosial media, sepertinya saya memilih untuk mencoba menghubungi langsung. Sesederhana menyapa dan bertanya “hi, how’s life?”.

Dan ternyata efeknya panjang.

Cerita-cerita mengalir dengan derasnya. Petuah-petuah diucapkan. Berbagi kabar kehidupan. Selalu menyenangkan berbagi itu dan melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Seperti dulu ketika saya masih bekerja di perusahaan multi nasional dan internal client kami tersebar di banyak negara, sebut saja New Zealand, Australia dan Singapura (yang saya interaksi langsung), setiap percakapan pasti dimulai dengan “hi, how are you?” Atau “hi, how’s life lately?” Etc. Dan pertanyaan-pertanyaan ini murni tulus. Untuk berkabar. Untuk berbagi kisah dan (seringnya) lelah.

Karena kadang kita gak butuh dinasehati. Hanya butuh orang yang mau mendengar. Mendengar dengan setulus hati.

Dan mungkin juga sambil bilang, “hey, it’s just life playing tricks on you. You’ll get this. You’ll pass through this. Just like seasons. There will always be rainbow after rain. And I’ll be there with you.”

Udah. Gak perlu nasehat panjang lebar. Kecuali diminta. Karena pada dasarnya, setiap kali seseorang cerita itu seringnya sebenernya dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan, apa yang harus dikerjakan. Tapi ya terkadang perlu jeda. Perlu ruang. Untuk tumpahin semua emosi. Dan cara yang paling sehat ya dengan bercerita.

Bahkan psikolog-psikolog itu juga mediasi dengan mendengarkan cerita klien/pasiennya kan. Ada alasannya kenapa Tuhan menciptakan 1 mulut dan 2 telinga.

Dan kalau misalnya kalian melihat teman yang kayaknya happy, sukses, boleh juga dihubungi untuk ditanya “apa kabarnya?”. Kadang apa yang tertulis di caption instagram itu gak ada 10%nya apa yang dia rasakan saat itu.

Atau bahkan teman yang sepertinya antah berantah banget. Gak terjamah. Gak pernah kedengeran lagi kabarnya. Boleh juga disapa sekali waktu. Siapa tahu kalian menyelamatkan hidupnya, atau malah hidup kalian yang diselamatkan olehnya.

Makhluk sosial. Sejatinya manusia.

Dan di era sosial media seperti sekarang, dimana orang lebih senang memposting konten dan mendapat likes, menjadikan emosi cenderung dikesampingkan.

Kita terhubung via jaringan, tapi gak terhubung secara pikiran.

Kita dekat secara jarak, tapi gak dekat secara emosi.

Reconnect. Secara menyeluruh. Jadi sesuatu yang sepertinya harus dilakukan. ASAP.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *