Pendidikan Malu Sedari Dini

100 Hari Menulis MOTHERHOOD Personal Thoughts Spiritual Journey

Semenjak Arka umur 10 bulan, dan diasuh penuh oleh saya, saya mencoba menanamkan rasa malu kepada dia. Ini juga menurut saya bisa digunakan sebagai bentuk self-defense dia sih karena saya lihat banyak sekali berita-berita diluaran sana yang mengarah kepada tindak kriminal terhadap anak-anak. Bahwa tidak boleh ada yang memegang dia kecuali saya-suami-kakek-nenek-dan orang-orang terdekatnya. Yang mandiin dia harus orang-orang terdekatnya. Ganti diapers harus ke toilet. Ganti baju pun harus di ruangan tertutup.

Ribet banget sih memang. Serba hati-hati sekali jadinya. Tapi kami coba lakukan secara konsisten. Semua demi menumbuhkan self-awareness ke diri anak kicik ini bahwa yaa memang yang boleh pegang-pegang kamu ya cuma kami-kami ini, orang terdekat di ring 1-nya lah. Sampai ulang tahun yang ke-dua pun, kita membatasi tamu undangan ya di ring 1 lagi. Yhaaa emang jadinya dia-dia lagi sih yang datang, tapi gapapa deh. Mungkin nanti kalau usianya sudah masuk pra-sekolah, baru akan lebih membuka diri.

Pada dasarnya sih dia anak yang super supel, friendly, dan mau ngobrol sama orang banyak. Bawel banget deh pokoknya. Tapi sejauh ini hanya selama ada saya atau suami di dekatnya.

Sekarang usianya sudah 2 tahun 3 bulan. Dia sudah bisa mengingatkan saya bahwa kalau buka diapers harus di toilet (iya saya masih sama kayak ibu-ibu lainnya yang kadang maunya serba cepet, ganti di luar aja daripada ngantri toilet lama) — dengan alasan “Arka maluuuuuu”. Bahwa kalau mandi itu harus tutup pintu dan tutup shower curtain. Bahwa gak boleh bugil sama sekali, sehabis mandi harus cepat-cepat pakai handuk dan baju. Dia sama sekali gak mau dipakaikan baju oleh yang lain.

Trus ada dramanya gak? Kondisi dimana dia harus dipegang sama orang lain trus dia teriak-teriak dan nangis-nangis kayak yang sakit banget rasanya?

Ada bu-ibuk… Ini bikin saya terpotek juga sih hatinya.

Ini waktu dia harus mendadak ke UGD dan di infus. Trus harus cek urin, feses dan darah. Ini gak ngerti lagi sih dramanya kayak apa, super heboh. Se-IGD rumah sakit kali suara nangisnya dia tuh.. Apalagi pas mau pup dan dibantu *maaf* cebok sama suster. OMG itu dia sampai sesenggukan padahal saya juga ada disitu dan peluk dia. Cuma kan memang susah banget secara dia pakai infus, ke toilet bawa-bawa ampulan infus, saya masih harus gendong dia dan dudukin ke toilet, ditambah ambil jet shower dan ceboknya. Tapi setelahnya reda sih. Itu juga sambil minta-minta maaf sama anaknya karena ada tante suster yang mau bantuin maminya.

Sama satu lagi, dia saya bawa pijat ke pijat bayi karena capek banget kakinya katanya. Pijatan saya gak mempan ternyata. Proses treatmentnya didahului sama berendam air hangat, sampai sini masih happy tapi tetap buka baju, buka diapers, dll sama saya. Oles-oles juga sama saya. Siram-siram sampai handuk-handukan juga sama saya. Emang bener-bener cuma pindah tempat aja ini sih hahaha. Waktu sesi pijitnya, mulai dramaa. Akhirnya saya contohin posisinya persis di samping dia. Dan harus banget pegangan tangan :”)

Gemes ya. Sekilas orang mungkin lihatnya “anaknya gak bisa lepas banget ya bu?”, “anak mami banget ya ini”, gitu-gitu.. Tapi saya dan suami sepakat kalau ini adalah bentuk self-defense dia yang paling utama selama dia belum bisa membela dirinya sendiri. Konsekuensinya apa? Ya harus ada saya atau suami yang ada di dekat dia. Yang bisa bilang, oke ini aman atau oke ini tidak aman.

Yaaa, bismillah, semoga ikhtiar kami membuahkan hasil dan dia bisa aware terhadap dirinya sendiri. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, serta yang sesuai dengan etika dan norma kesopanan sewajarnya.

Oh men, gila ngurus anak ternyata gak segampang itu yaaa.. Hahaha.

Semangat untuk semua orang tua dan pendidik di luar sana! Kalian luar biasaaaaaa 🙂

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *