#nontondirumah — Bioskop Ala-Ala untuk Bocah

DIARY ARSYANENDRA MOM JOURNAL

Kemarin, kami sekeluarga mencoba untuk dengan sengaja #nontondirumah. Nonton yang benar-benar bertiga, sebagai keluarga, di kamar Arka. Lampu dimatikan. AC dihidupkan. Siapin cemilan-cemilan. Bikin bioskop ala-ala di rumah. Sekalian ngetes kira-kira anak ini sudah bisa belum ya diajak nonton dengan durasi yang lumayan lama dan non stop — gak ada iklannya.

Film yang pertama kali ditonton adalah Ratatouille. Awalnya, happy cenderung excited karena tau mau ‘nonton bioskop’. Trus ngoceh gak berhenti selama 5 menit awal film. Kan di awal-awal film tuh diceritain tentang obsesinya Remi sama Gusteau. Arka masih menerka-nerka filmnya, dan sepanjang 5 menit itu dia selalu nanya “Dia kenapa mami?”, “Dia ngapain tuh mami?”, “Dia makan apa mam?”, dan lain-lainnya. Sampai pada suatu adegan dimana Remy ketinggalan rombongan keluarganya karena dia lebih memilih menyelamatkan buku resep duluan, disinilah ada tangisan meraung-raung di kamar itu. Trus Arka bilang “STOOOPPPP!”.

“STOOPP. STOP FILMNYA. STOP! ARKA GAK MAU NONTON BIOSKOP. INI SEDIH. DIA KETINGGALAN PAPINYA!! GANTIIIII”

Trus adegan berikutnya, begitu lagi. Pokoknya kalau ada adegan sedih, takut, walaupun cuma ekspresinya saja — gak pakai bicara, langsung anak ini minta skip. Ratatouille ini total cuma 10 menit dia mampu bertahan.

Berikutnya bapaknya masih mau ajakin dia nonton. Akhirnya nonton Turbo. Film tentang siput yang bermimpi untuk jadi pembalap dan mengikuti lomba balap di Indy 500. Ada beberapa adegan di film ini yang dia pun ngumpet dibalik bantal, tapi gak se-drama film sebelumnya yang sampai nangis meraung-raung. Film ini berhasil di tonton sampai habis dengan ending-nya Arka bilang:

“Ini siput-siput temennya Arka semua.”

Kelihatan banget kalau dia menikmati filmnya.

Keesokannya, karena bapaknya masih mau juga ajakin nonton. Akhirnya nonton Wreck It, Ralph. Di awal-awal cukup struggle. Tapi endingnya menyenangkan. Tapi ada beberapa hal yang ku notes dari nonton bareng anak kicik yang 2 bulan lagi umurnya 3 tahun ini..

  • They live in the present. Iya anak umur segini belum bisa membedakan yang baik dan buruk. Karakter mana-mana aja yang sifatnya Hero dan Villain. Walaupun basic-nya dia Hero, tapi kalau dia melakukan hal yang sifatnya Villain, dia jadi Villain. Gak ada ceritanya berbohong untuk kebaikan di anak umur segini. Apa yang dilakukan saat itu, itu yang menentukan karakternya.
  • Peka terhadap emosi. Ini yang kadang saya lupa karena terlalu seringnya bareng dia. Ada perubahan mimik wajah, intonasi suara, ekspresi gaya tubuh, dan lain-lain itu dia langsung tahu dan alert sama perubahannya. “Kenapa dia sedih mami?”.
  • Empati yang tinggi. Karena dia peka terhadap emosi, dia jadi punya empati yang tinggi. Dia memilih untuk gak lihat adegan-adegan yang dia tahu kira-kira mengarah kemana, atau yang sedih-sedih gitu. Nah ini pun kadang terlewat oleh saya saat proses mengasuh sehari-hari. Kalau saya emosi sama dia dan saya diamkan/marahi dia, biasanya dia akan nangis meraung-raung sebagai usaha untuk bikin saya gak jadi marah dan malah nenangin dia nangis, tapi udah beberapa kali ini setiap dia nangis saya bilang “sedih ya? Yaudah nangis aja. Gakpapa. Tapi tetep gak boleh.”, dan setelah itu dia tetep nangis sih tapi gak meraung-raung lagi. Kalau udah selesai nangis, dia bilang “udah mami, Arka udah selesai nangisnya”, trus berusaha menghibur saya dengan bikin becanda-becandaan sambil pasang muka yang komik banget.
  • Sepenting apa pun prosesnya, tetap anak kecil akan melihat hasilnya. Kayak di film-film ini, temanya adalah balapan. Walaupun prosesnya berliku-liku panjang, anak ini akan tetap melihat hasil akhirnya –menang atau kalah. Ini masih PR juga di kami untuk ngasih tahu bahwa kekalahan bukan selalu menjadi hasil yang buruk. Jadi catatan pula di kami bahwa gak perlu menuntut anak untuk selalu menang, tugas kami lah untuk fokus di proses-proses menuju kata menang itu. Kalau pun si anak mau dan berharap untuk menang, biarlah jadi tekad kuat sang anak. Gak perlu lagi kita — orang tua — membebani dengan kata-kata penuh kemenangan itu. Karena kekecewaan itu hakiki sih. Pasti mereka kecewa banget kalau kalah tanpa perlu kita perjelas lagi. Tapi biasanya mereka akan berlipat-lipat sedihnya ketika tahu bahwa mereka kalah padahal kita SANGAT mengharapkan mereka untuk menang. Sekali lagi, fokus di proses adalah tugas kita para orang tua.

Segitu kira-kira pengalaman yang bisa saya bagikan dari menemani anak kicik nonton bareng di rumah. Menyenangkan rasanya. Penuh roller-coaster perasaan sih, lebih karena kami gak tahu cara meng-handle emosinya yang masih genuine banget :”)

Tapi setelah ini, semoga jadi pembelajaran untuk kita semua. Untuk bisa selalu memilah milih tontonan yang bermutu untuk anak dan selalu mengedepankan emosi anak dalam menonton. Kalau menurut anak tontonannya terlalu menguras emosi, ganti. Jangan maksa. Jangan juga mengetawakan eskpresi emosinya dengan kata-kata “Lah gitu aja nangis” dan hal-hal seperti itu. Karena apa yang dia tonton, itu berperan juga dalam pengisian jiwanya. Langsung maupun gak langsung.

#nontondirumah

#dirumahaja

Stay safe, people. Semoga wabah Covid ini segera berlalu 🙂

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *