Menyapih Arka (dari Botol) dan Belajar Disiplin Sedari Dini

100 Hari Menulis MOTHERHOOD

Semenjak Arka ulang tahun yang ke 2, saya bertekad untuk mulai menyapih Arka dari dotnya. Jadi Arka itu nge-dot dari lahir karena kondisi saat itu yang gak memungkinkan untuk nyusu pakai media yang lain. Arka lepas nenen itu umur 10 bulan, dan lepas ASIP umur 1 tahun. Dan setiap mau tidur — baik itu tidur pagi, tidur siang, tidur malam — pasti dia nyusu di dot sampai tertidur. Jadi asosiasinya dia adalah “mau bobo, mau susu”. Bobo dan susu adalah dua hal yang tak terpisahkan.

Sekedar mau berbagi cerita, tentang menyapih dari dot itu memungkinkan gak ya?

Alhamdulillah berbekal rasa tega dan afirmasi terus menerus dari maminya, setelah 1 minggu mencoba akhirnya Arka bisa lepas dot-nya. *brb dancing dulu*.

Jadi bagaimana tahapannya?

Well, jadi ini sebenarnya adalah bagian dari “Proyek Makan Bener”-nya Arka. Proyek Makan Bener ini adalah proyek yang kuikuti saran-sarannya dari dokter gizi dan ibu-ibu yang sudah share di luaran sana. Intinya adalah mengatur jam makan anak, baik itu makan berat, snack, susu, dan buahnya. Supaya apa? Supaya si anak bisa makan dengan tertib dan teratur, meminimalisasi GTM dan nguber-nguber kalau jam nya makan, dan supaya anak gak pilih-pilih makanan. Cung siapa yang pusing setiap ngasih makan anak?

Terus terang, sebagai seorang ibu itu adalah stress kalau anaknya gak mau makan. Langsung deh itu pikiran “apa masakannya gak enak ya?”, atau “mungkin dia harus dimasakin yang lain kali ya?”, atau “yaudah deh makan sambil main aja supaya masuknya banyak”. Akhirnya cuss masak yang lain dan ngebela-belain nyuapin sambil anaknya main. Dan akhirnya, makin stress deh karena kok gak selesai-selesai ya ini. Begitu selesai nyuapin, udah ketemu lagi sama waktu makan berikutnya.

Akhirnya sejak seminggu kemarin saya strict di aturan makan. Bahwa:

  1. Makan harus di meja makan, bukan meja belajar, depan TV, apalagi sambil main, dll. No compromise!
  2. Sebelum makan wajib cuci tangan dan baca doa. Begitu pun setelah makan.
  3. No gadget!
  4. Ada waktu makan, dan saya save di handphone dengan alarm yang ringtonenya sama terus. Jadi kalau handphone saya bunyi, berarti itu waktunya makan, atau susu, atau buah. Kalau belum bunyi, berarti belum bisa makan. Sadis ya?
  5. Kira-kira seperti ini jadwalnya:
    • 04.00 : susu 125ml (ini karena anak ini bangunnya selalu pagi)
    • 07.00 : sarapan
    • 09.30 : snack/susu 125ml
    • 12.00 : makan siang
    • 15.00 : buah
    • 16.00 : snack/susu 125ml
    • 18.00 : makan malam
    • 19.30 : susu malam 125ml

Trus bagaimana progressnya?

Hari pertama: dia nangis-nangis setiap mau tidur. Karena gak dapet dot kan kalau siang. Jadi dia rungsing gak karuan. Di hari ini sih saya gak berharap banyak. Hanya saja maminya harus kuat mental jadi benar-benar harus komitmen untuk tetap patuh ke jadwal. Kalau anak masih merengek terus, coba alihkan ke kegiatan yang lain dan banyak-banyak di peluk *penting. Di hari pertama ini, Arka sukses gak tidur siang. Dan saya bilang sama dia, kalau mau pakai dotnya boleh, tapi nanti malam. Kalau siang sudah big boy, pakai susu kemasan seperti kakak-kakak. Dia happy dong dibilang sudah seperti kakak-kakak. Jadi susu kotaknya mau, tapi pas ngantuk tetep mau dot. Wkk. Hari pertama, kami survive dengan jadwal ini.

Hari ke dua: sudah mulai membaik emosinya. Sudah bisa diberitahu dan sudah mulai mengerti kalau alarm bunyi, tandanya makan. Sudah mulai menerima susu kotak. Tapi masih cranky kalau mau tidur. Belum bisa tidur siang sendiri.

Hari ke tiga: tidur siang jadi tidur sore, jam 16.00 saja pemirsa, dan di depan TV pakai bantal kesayangan.

Tidur sendiri di depan TV.

Hari ke empat: setiap alarm saya bunyi, dia yang mengingatkan dan bertanya “berarti sekarang waktunya Arka apa dong mam?”. Manfaatkan ya bu-ibu ๐Ÿ™‚ Tidur siang berhasil di mobil, tapi gak nyenyak. Kebangun dan cranky. Tidur malam masih pakai Dot.

Hari ke lima: Masih stick ke jadwal. Tidur malam pakai dot, tapi gak dihisap. Tanda dia sudah kenyang akibat makan malam. Porsi makan sudah meningkat.

Hari ke enam: sudah bisa tidur siang sendiri tanpa dot. Tidur malam juga tidur sendiri. Masih nyariin dot-nya kalau malam, tapi begitu saya ngobrol sama suami, dia ketiduran sendiri.

Hari ke tujuh: tidur siang dan tidur malam murni gak pakai dotnya. Naik ke kasur sendiri, bilang “ngantuk mam”, dan ambil posisi di bantal kesayangan. Maminya kembang kempis kesenengan.

Hari ke delapan (hari ini): makannya banyak, 1 porsi mangkok dia sudah habis. Mau pegang makanannya sendiri, pakai sendok/garpu/tangan sendiri. Dan tidur malamnya, tidur sendiri.

Sungguh ini pencapaian yang luar biasa untuk saya karena sebelumnya Arka tuh jadwal makan berantakan, ngemil sembarangan, tidur pakai dot-nya sampai beleber-beleber susunya tumpah ke kasur dan bantal dia. Sekarang sudah bisa anteng duduk di high chair, antusias ketika jam makan tiba, terlihat menikmati makanan dia sendiri walaupun masih suka tukeran piring sama saya atau suami, makanannya seringnya habis, dan betulan no gadget. Semoga setelah ini berat badannya bisa naik dan PR saya selanjutnya adalah mengatur menu padat kalori dan gizi untuk menunjang tumbuh kembang si anak big boy ini.

Dan betul-betul yaa konsisten dan disiplin adalah koentji untuk ini semua. Sebagai orang tua, saya pun belajar banyak dari proses ini. Mau gak mau akhirnya saya pun ikut jadwal makan dia dan gak boleh ngemil di depan dia. Kebiasaan orang tua itu kan yang juga jadi kebiasaan si anak. Mari bangun kebiasaan-kebiasaan yang positif supaya si anak juga jadi positif.

Semangat selalu yaa Moms & Dads di luar sana yang sedang sama-sama berjuang! You are not alone, kok ๐Ÿ™‚

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *