Menjadi Seorang Ibu

100 Hari Menulis MOTHERHOOD Personal Thoughts

Postingan ini mungkin akan jadi postingan sensitif saya 🙂

Apa rasanya menjadi seorang Ibu?

Ibu, profesi yang pasti akan disandang oleh kebanyakan perempuan nantinya. Satu-satunya profesi yang butuh jabatan tinggi tapi gak pernah ada sekolahnya. Satu-satunya profesi juga yang taruhannya adalah generasi penerusnya. Tapi gak ada pengajarannya. Yang ada hanyalah ‘melihat’ ibu kita sendiri (dan ibu-ibunya teman kita) untuk kita simpulkan cara asuh, ajar, dan sikapnya. Atau kalau mau lebih banyak referensi, baca dari buku-buku parenting dan relationship rumah tangga.

Apa rasanya ketika SAYA menjadi seorang Ibu?

Pada awalnya pasti happy bahagia bahwa ada anak yang dititipkan oleh Allah SWT untuk kami asuh. Perlahan tapi pasti, rasa bahagia itu digantikan oleh rasa was-was dan cemas secara terus menerus (motherhood anxiety), rasa kesal terhadap diri sendiri (kayak yang “kemana ajaaa woy, 27an tahun ini gak nyari ilmu serius tentang perkembangan & pendidikan anak, tentang manajemen rumah tangga” dan blablablablanyaa), dan adanya rasa terus-terusan menyalahkan partner dan menuntut porsi yang sama — kalau saya bangun, dia juga harus bangun dong. Padahal bisa jadi saya bangun, dia tidur, supaya pas saya tidur, dia bisa bangun. Logis kan?

Tapi semakin kesini, semakin saya merasa kalau ‘menjadi ibu’ adalah achievement terbesar saya. Untuk pertama kalinya saya memiliki kendali penuh terhadap proses pembelajaran dan pembentukan karakter seseorang. Yang kalau dia melakukan sesuatu, saya bisa langsung men-trace dari mana datangnya sikap tersebut. Untuk pertama kalinya saya mengedepankan seseorang disamping diri saya sendiri dan menyayangi orang tersebut lebih dari menyayangi diri saya sendiri. Untuk pertama kalinya juga saya mencoba mencari-cari potensi kesalahan pengasuhan yang dulu dilakukan orang terdekat saya yang efeknya tidak menyenangkan kepada saya — untuk kemudian secara sadar saya cari cara untuk tidak mengulanginya lagi. Untuk pertama kalinya juga doa saya punya pengaruh yang besar terhadap diri yang lain. Pertama kalinya juga saya berasa di tampar bolak balik ketika anak kicik ini bisa balas omongan saya, panas hati yaa buibuuukkk. Tapi selalu coba cari cara untuk ngademin, walaupun kadang yang paling cepet ya minum air dingin atau wudhu, hahaha.

Menjadi ibu adalah anugrah yang luar biasa untuk saya pribadi. 10 bulan di awal pertumbuhannya Arka, saya merasa lalai. Merasa bahwa menjadi ibu itu ‘hanyalah’ tahapan yang sewajarnya di lalui ketika sudah menikah dan melahirkan. Ketika sadar bahwa tugas ini jauh lebih banyak dari itu, langsung belajar sana-sini dan fokus ke urusan anak. Dan karena waktu yang digunakan hanya yang sisa dari kerja kantoran, akhirnya saya memutuskan resign kantor dan fokus ke anak bayik. No offense untuk bu-ibuk yang kerja di luar rumah — kalian sungguh luar biasa. Ini sih sayanya saja yang merasa saya terlalu lemah dan mudah tersulut emosi karena lelah sepulang kerja. Banyak banget hal yang perlu di catch-up tentang tumbuh kembang bayi ini, tapi kepala udah panas duluan dan maunya hanya istirahat.

Pasti akan ada masanya nanti saya kembali ke dunia profesional — mungkin kalau Arka sudah masuk usia sekolah, tapi yaa untuk sementara ini, mari dinikmati saja. Mumpung saya masih jadi orang nomor satunya dia. Yang apa-apa harus sama maminya. Kalau ditanya yang paling baik, yang paling cantik, yang paling peduli, yang paling disayang — alhamdulillah maminya masih juara di hatinya anak bayik ini *trus maminya ge-er luar biasa.

Gak kebayang nanti tiba-tiba dia ngenalin perempuan lain sebagai calon istrinya. Bisa langsung mellow lah mamak ini *padahal masih jauh juga siih (mamak melankolis). Hahaha.

Peluk dan cium untuk semua buibuk strong di luaran sanaaa. Ku butuh suntikan kekuatan juga nih rasanya 🙂 Keep strong, calm, and inspired all!

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *