Menjadi Orang Tua di Era Digital

MOTHERHOOD

Sewaktu acara 17 Agustus yang lalu, ada salah seorang tetangga yang mengajak ngobrol saya. Topik obrolannya gak jauh-jauh, tentang anak. Dia punya 3 orang anak. Komplek perumahan saya termasuk yang sangat kecil berisi sekitar 20 rumah saja dan mayoritas dihuni oleh nenek dan kakek, yah mungkin yang paling tuanya seumuran dengan ibu saya. Kecuali tetangga saya yang tadi itu, yang ngajak ngobrol. Saya taksir umurnya sekitar 30an tahun karena anaknya pun masih kecil-kecil.

Back to topic yaa..

Dia mengomentari mengenai parenting masa kini. Menurutnya jaman sekarang ini sudah banyaaaakkkk sekali ilmu-ilmu parenting berterbaran dimana-mana. Dari mulai buku-buku, internet, sampai ke seminar-seminar pun banyak yang materinya tentang parenting. Kadang saking banyaknya, sampai pusing sendiri mengenai metode parenting mana yang akan dipilih untuk mengasuh anak kita nantinya. Saya mengamini dia.

Dia pun bercerita bahwa anaknya yang paling kecil, yang berumur 4 tahun, hari selasanya akan mulai bersekolah di sekolah berbasis Sentra di daerah Bekasi Barat. Perjalanan di tempuh dalam waktu 30 menit kalau pagi hari karena cenderung melawan arus kendaraan jadi tidak terlalu macet. Dia prefer metode Sentra untuk pengajaran anaknya dan saya pun bercerita mengenai metode Montessori yang insyaAllah akan saya pilihkan untuk sekolah #Arsyanendra nantinya (semoga ada rejekinyaaaa. Aamiin).

Apapun metode yang dipakai, kami berdua sepakat bahwa yang namanya orang tua pun harus selalu update terhadap perkembangan dan ilmu-ilmu serta harus mau belajar tanpa henti. Ibaratnya, sebelum anaknya belajar, orang tuanya yang harus belajar terlebih dahulu.

Kalau boleh curhat, saya termasuk orang tua yang mengalami culture shock ketika anak saya lahir. Ada perubahan yang sangat sangat sangat besar dalam pola pikir saya dan perasaan selalu haus ilmu serta merasa bodoh tanpa henti. Dihadapkan dengan anak bayi itu saya merasa sangat bodoh. Banyak hal yang tidak saya ketahui dan pahami, terutama tentang manajemen emosi. Dulu, ketika masih sendiri, rasanya mudah sekali untuk manajemen emosi. Karena hanya emosi satu orang yang di manage kan? Tapi ketika lahir anak bayik ini, kontan langsung ada 3 emosi yang harus di manage. Emosi saya, emosi anak bayik, dan emosi bapaknya. Iya, bapak juga berperan disini. Dan itu saya merasa minim ilmu. Sangat minim..

Sejak saat itu saya jadi seperti yang merasa rugi banget kalau tidak memanfaatkan waktu dengan membaca, mengikuti seminar, dan lain-lainnya mengenai parenting dan pengasuhan anak. Dari hasil seminar-seminar itu, saya telaah dan pelajari lebih lanjut kira-kira manfaatnya apa dan apakah bisa diterapkan untuk mas bayik karena sejatinya ilmu parenting harusnya adalah tailored-made. Banyak akhirnya metode-metode yang saya pilih pun tidak lazim menurut orang tua saya. Mereka berkata “Dulu juga gak ada seperti itu dan kamu toh baik-baik saja kan?”. Dan mungkin karena saya terlihat sangat passionate di bidang ini, mereka sampai berkata “Gak usah buang-buang waktu untuk itu, parenting itu bisa dipelajari sambil jalan”. Mungkin karena menurut mereka effort saya berlebihan 🙂

Tapi, kalau boleh saya berpendapat.. saya adalah tipe yang lebih baik prepared terhadap apapun itu. Parenting itu sulit. Dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk bisa survive. Dan menurut saya, untuk menjadi kreatif dibutuhkan pemahaman terhadap semua aspek dan pengetahuan supaya ketika kita dihadapkan dengan masalah, kita akan dengan mudahnya menarik benang merah berdasarkan pengalaman (pengalaman pribadi dan pengetahuan tentang pengalamannya orang lain itu) dan menjahitnya sehingga masalah terselesaikan.

Saya percaya bahwa dengan belajar, maka kita akan mendapatkan ekspektasi, ekspektasi akan mengarah kepada preparation, sehingga kita bisa handle masalah dengan baik ketika mereka datang dan menjadikan anak less cranky dan lebih happy.

Saya juga percaya bahwa ibarat abjad A B C D dst, ada orang tua yang start di A dan menjadikan anaknya B. Orang tua yang start di B, menjadikan anaknya C, dan seterusnya. Kualitas anak ditentukan oleh kualitas awal orang tuanya menurut saya. Walaupun ada juga yang bilang bahwa yang terpenting adalah lingkungannya, tapi yang memilihkan lingkungan untuk anaknya itu siapa? Ya orang tuanya juga kan? Jadi ilmu untuk menjadi orangtua itu penting banget sih.

Saya bicara seperti ini dari kacamata orang tua yang baru belajar ketika anaknya sudah lahir. Jadi berasa kejar-kejaran banget. Apa yang saya pahami hari ini, besok anak saya sudah lakukan. Kadang malahan overlap.

Karena gak ada sekolah menjadi orangtua, sejatinya memang kita sebagai calon orang tua belajar untuk menjadi orang tua sejak dini. Bahkan kalau perlu dari sebelum menikah. Banyak sekali perempuan dan laki-laki belum menikah yang saya temui, mengikuti seminar-seminar mengenai parenting. Disitu saya merasa kalah start sih, hiks. Tapi yasudahlah, yang lalu biarlah berlalu yaa..

Sekarang fokus ke masa kini saja..

Dengan postingan ini, saya mau mengajak untuk kamu yang membaca, siapapun kamu dan dari background apapun kamu, yuk mari jadi orang tua yang berdaya! Yang mau belajar dari apapun dan siapapun (termasuk anak bayi kita sendiri). Karena kita semua adalah murid dan semua guru.

Cheers to better generation!

Xoxo

Amy

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *