Mengenal Blighted Ovum

Pregnancy Journey

Oke, masih seputar serba-serbi kehamilan ๐Ÿ™‚ kali ini saya mau coba share mengenai Blighted Ovum. Ini saya share berdasarkan pengalaman saya yang pada kehamilan pertama saya ternyata saya di diagnosa mengalami Blighted Ovum.

Kehamilan pertama saya pada awalnya tidak terdapat hal yang aneh. Semua berjalan dengan normal. Dimulai dari telat datang bulan dan mulai coba-coba pakai test pack — saya dan suami norak banget waktu itu, semua merk dibeli dan dicoba-coba, pokoknya happy yang berlebihan ala-ala pengantin baru gitu ketika tahu telat datang bulan. Ya intinya, kehamilan pertama saya merupakan kehamilan yang dinanti-nantikan, toh saya dan suami memang tidak berencana untuk menunda apapun setelah menikah.

Setelah hasil test pack menunjukkan garis dua yang berarti positif hamil kalau dilihat dari tes urine-nya, maka kami memutuskan untuk konsultasi ke dokter supaya lebih yakin. Hasil konsultasi ke dokter dan tes USG menunjukkan bahwa saya hamil 8 minggu. Super happy alhamdulillah.

8w5d
8 weeks 5 days

Sepulangnya dari rumah sakit, saya masih tetap melakukan hal-hal seperti biasa. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang diistimewakan. Semuanya normal. Saya masih nyetir pulang pergi kantor sendiri, masih lembur-lembur juga, dan nafsu makan biasa saja gak ada mual-mual yang berarti (beda dengan hamil yang kedua, mualnya ampun-ampunan).

Sampai kira-kira pada usia kandungan 10 minggu, saya mengalami flek. Untuk para wanita pasti tau flek itu apa. Sejenis darah samar yang muncul sebelum haid datang. Saya masih santai saja karena menurut buku-buku yang saya baca, flek itu normal hadir ketika awal-awal proses kehamilan. Tapi seharusnya hanya berlangsung kira-kira sehari atau dua hari.

Ternyata untuk kasus saya, flek itu berlangsung sekitar 5 hari. Saya yang setiap kali buang air kecil selalu was-was akhirnya cerita pada suami dan kami memutuskan untuk ke dokter. Saat itu memang bertepatan dengan waktu kontrol juga.

Ketika sampai di rumah sakit, seperti biasa dilakukan tensi dan pengukuran suhu tubuh. Suster yang melakukan pengecekan bertanya apakah ada keluhan. Saya bilang bahwa sudah seminggu saya mengalami flek. Tapi badan saya normal, gak sakit-sakit ataupun lemas dan demam. Raut muka si suster langsung berubah, dari yang tadinya senang dan senyum ramah sumringah, langsung ke mode cemas, was-was, dan waspada. Dia bilang seharusnya kalaupun ada flek gak sampai seminggu lamanya. Tapi dia berharap yang terbaik untuk saya pada saat itu dan saya dipersilahkan menunggu antrian kembali.

Tibalah giliran saya di panggil untuk masuk ke ruang periksa. Benar seperti dugaan suster tadi, ternyata kandungan saya bermasalah. Kata dokter, saya mengalami yang namanya Blighted Ovum. Bahwa ternyata bukan janinnya yang berkembang, melainkan kantong janinnya. Kalau kalian bisa lihat dari hasil USG itu dan membandingkan dengan USG sebelumnya ketika usia kehamilan 8 minggu, disitu bisa terlihat bahwa yolk sac-nya yang membesar, bukan fetal pole-nya. Saya dan suami sebegitu sedihnya saat itu sampai gak tau lagi harus bereaksi seperti apa. Tapi kami berusaha tetap tanya-tanya terus supaya ini tidak terjadi lagi di kehamilan berikutnya.

10w5d
10 weeks 5 days

Saya bertanya kira-kira apa yang bisa menyebabkan saya mengalami kehamilan blighted ovum ini?
Saat itu saya ingat, yang pertama kali dokter tanyakan adalah apakah di keluarga kami ada yang merokok. Saya bilang bahwa saya dan suami bukan perokok. Dulu ayah saya perokok termasuk perokok berat, tapi itu duluuu sekali. Dan beliau berhenti merokok kalau gak salah kira-kira di tahun 2000. Dokter saya waktu itu bilang merokok bisa menjadi faktor pemicu juga.

Kemudian dia menambahkan, bahwa blighted ovum ini lazim terjadi ketika ibu hamil miscarriage. Jadi misalnya dari 100% ibu hamil, 40%nya keguguran. Dan dari 40% ibu hamil yang kegugyran itu, 70%nya dipicu oleh blighted ovum itu.

Dan blighted ovum ini tidak ada hubungannya dengan penyakit keturunan. Juga apabila misalnya saat ini kalian mengalami blighted ovum, maka dikehamilan selanjutnya mungkin tidak blighted ovum. Dalam setiap kehamilan, kansnya 40% untuk miscarriage. Jadi kasusnya per kehamilan yaa. Probabilitasnya sama.

Dokter juga bilang bahwa sebenarnya dalam tubuh kita ada semacam detektor yang bisa mendeteksi apakah janin tersebut normal atau tidak. Ini urusannya ke sel dan kromosom serta proses pembelahan. Apabila proses pembelahan tersebut tidak sempurna, atau misalnya pada kromosom kesekian di nilai oleh tubuh tidak baik, maka secara otomatis tubuh akan menghentikan prosesnya. Sehingga janin tidak akan tumbuh. Begitu kira-kira.

Dan pada saat itu ketika saya tanya ke dokter berarti apa yang salah dari treatment saya selama ini, beliau bilang bahwa gak ada yang salah. Dan penyebab blighted ovum belum ditemukan sampai saat ini. Sejauh ini para ahli masih memegang prinsip bahwa blighted ovum adalah mekanisme normal tubuh untuk memilih mana zat yang sekiranya baik ataupun yang tidak baik untuk tubuh.

Setelah proses diskusi dan enlighment yang panjang itu, saya dikasih sebuah obat untuk meluruhkan janin tersebut. Beruntungnya saya usia janin masih dibawah 16 minggu, sehingga kalau proses peluruhannya ini selesai, saya tidak perlu melewati fase kuret. Kalau kalian tanya perasaan saya waktu itu, itu perasaan yang paling gak bisa saya deskripsikan selama saya hidup. Hati tuh rasanya sakit banget dan sedih sesedih-sedihnya. Perih banget. Dan ternyata ini ada efeknya untuk mental dan kejiwaan saya yang baru saya sadari ketika #Arsyanendra lahir.

Gak ada yang kasih tahu ke saya bahwa rasanya tuh sakit banget ketika janin keluar. Kira2 2 hari setelah saya konsumsi obat tersebut secara rutin. Itu bertepatan dengan suami tes masuk pasca sarjana UI. Saya yang sedang antar dan tunggu dia di kampus, merasakan sakit perut hebat. Dan keluarlah si janin itu. Disitu saya nangis sejadi-jadinya. Bentuknya seperti yang saya lihat di buku-buku kehamilan. Persis di usia kira2 9-10 minggu. Alhamdulillah langsung bisa saya kubur di rumah setelah pulang dari kampus.

Setelah itu, kira-kira 3 hari setelahnya kami ke dokter lagi untuk kontrol. Alhamdulillah hasil USG menunjukan bahwa rahim sudah bersih sehingga saya tidak perlu di kuret lagi untuk dibersihkan. Dokter menghimbau untuk tidak ada program hamil lagi dulu selama 3 bulan. Ini untuk mengembalikan metabolisme tubuh dan rahim yang sebelumnya terganggu karena proses kehamilan tersebut supaya normal kembali.

Kami mengikuti saran dokter dan alhamdulillah setelah 3 bulan, dan 9 bulan setelahnya lahirlah #Arsyanendra.

Kalau boleh dikatakan, masa 3 bulan menunggu itu merupakan masa-masa sensitif untuk saya dan suami. Saya lebih banyak nangis, dan suami juga saya tahu dia banyak diam tapi sebenarnya sedih juga seperti saya. Dia lebih kasian sih karena gak tau harus berbuat apa menghadapi kelabilan emosi saya saat itu. Saya betul-betul senggol konslet banget. Satu kata atau satu perbuatan suami salah di saya, saya bisa segitu marahnya sekaligus sedihnya. Bingung gak sih sama emosi yang seperti itu? Tapi alhamdulillah semua sudah membaik dan saya serta suami pun semakin berserah kepada Allah SWT, toh anak adalah amanah. Pada saat itu saya berpikir, mungkin kami berdua masih terlalu cepat, masih terlalu grasa-grusu kalau jadi orang tua. Masih butuh banyak penyesuaian satu sama lain. Masih butuh banyaaakk belajar. Termasuk belajar ikhlas, sampai sekarang ๐Ÿ™‚

Jadi, untuk parents maupun calon parents yang saat ini sedang mengalami proses ini, tetap sabar, ikhlas, dan tetap berusaha yaa. InsyaAllah selalu ada jalan dan semua akan baik pada waktunya ๐Ÿ™‚

Cheers,

-Amy

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *