Mencoba Menjadi.. Script Writer?

100 Hari Menulis Personal Thoughts

Sebulan belakangan ini saya diminta oleh seorang teman untuk menjadi script writer di start-up nya. Tugasnya tentu saja membuat script/naskah, tapi kali ini bukan untuk film atau program televisi, tetapi untuk belajar online — mengenai serba-serbi mengapa kita harus belajar materi A, B, C, dan seterusnya.

Selama sebulan ini, alhamdulillah saya sudah menghasilkan 4 buah naskah yang lulus review. Trus saya sebangga itu. Happy banget! Karena betul-betul challenging banget ih nulis script itu. Kita harus tahu audience-nya siapa, perlu mikirin banget alur ceritanya, sudut pandang pembaca, ke akuratan ceritanya, dan lain sebagainya.

Berhubung yang saya bahas adalah masuk ke kategori fiksi yaitu ilmu pengetahuan dan bagaimana ilmu itu akan relate ke kehidupan sehari-hari, jadi mau gak mau ya research juga akhirnya. Dimulai dari hunting ke toko buku untuk cari-cari buku pendidikan terbaru, googling, sampai ke baca sejarah penemu ilmunya itu yang membuat ini semua jadi seru.

Coba kalau pendidikan jaman saya dulu se-fun ini, diberikan pemahaman misalnya untuk apa sih kita belajar logaritma? Atau integral misalnya? Bukan hanya diminta untuk hapal rumus dan drill hitungan saja, sepertinya konsepnya akan benar-benar nempel di kepala sampai kapan pun juga. Beruntung banget deh generasi sekarang itu.

Ini sekaligus tantangan buat saya sebagai ibu sih, gimana untuk selalu menciptakan suasana yang fun untuk belajar. Ibunya dulu yang belajar, ya kaann. Ini juga alasan saya menerima tantangan menulis script ini. Semoga berkah dan bermanfaat bagi penontonnya juga yaa.

Oiya, ada satu yang menarik. Dalam sebuah sejarah mengenai salah seorang penemu. Dikatakan bahwa si penemu ini merupakan keturunan bangsawan. Kemudian ia bersekolah, dan meneruskan usaha perkebunan & pabrik ayahnya. Selama itu, ia selalu menganggap serius pekerjaannya dan akhirnya (karena ia super pintar dan selalu berpikir out-of-the-box) ia menciptakan sistem yang efektif dan efisien sehingga perkebunan dan pabriknya itu menguntungkan. Tapi karena dalam proses menemukan teorinya itu, ia seringkali bertingkah aneh, misal: sering muter-muter di lapangan dengan membawa ayam, ia dicap sebagai pemuja setan/aliran sesat. Padahal ia adalah nasrani yang aktif di gereja. Dan dia adalah John Napier, penemu Logaritma. Yang dengan ‘keanehan’nya itu, ia bisa menyederhanakan hitungan yang luar biasa rumit dan panjang, sehingga bisa di manfaatkan oleh banyak orang setelahnya. Bahkan 200 tahun setelah itu, Lapplace masih berterima kasih kepadanya.

Luar biasa yaa otak manusia itu.. Pelajaran banget sih ini buat saya, supaya gak usah nge-judge orang macam-macam. Bisa jadi ilmu kita yang masih pendek banget.. Jadi gak sampai ke pemikiran dia.

Seperti kata professor saya dulu semasa kuliah:

Selalu ada yang rasional dalam setiap hal yang irasional. Pertanyaannya adalah rasio siapa yang dipakai.

Prof. Jakob Sumardjo

Jadi kangen kuliah lagi deh 🙂

Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan ini! Semoga bermanfaat.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *