Membaca Refleksi

PERSONAL THOUGHTS

Beberapa hari belakangan ini saya sedang suka sekali membaca-baca “kepingan hidup” yang saya dokumentasikan di dalam blog ini. Membaca dari awal sekali. Tahun 2011 sampai akhirnya ke tahun sekarang.

Membaca refleksi itu nagih banget ya ternyata. Semacam jadi pengingat diri. Trus kayak yang diputerin video dalam otak yang isinya gak lain adalah memori.

Kepingan hidup.

Tentang saya yang bertemu siapa, ngobrol tentang apa, pergi kemana saja, dan lain sebagainya.

Hampir 10 tahun berarti umur blog ini. 10 tahun yang saya pun lupa kapan persisnya saya punya minat menulis. Kadang baca postingan awal-awal tuh ada yang bikin senyum-senyum sendiri, ada perasaan kesal juga, ada diri yang bergumam “gilak, alay banget gue!”, ada yang bikin sedih juga. Campur aduk emosinya.

Saya bersyukur pernah menuliskan itu semua. Memang gaya penulisan itu bisa dipengaruhi yaaa. Dipengaruhi sama pertemanan, lingkungan sekitar, kondisi keluarga, sosial dan masyarakat. Saya merasa saat itu kondisi atau cerita hidup saya lebih berwarna aja.

Sekarang mungkin saya hanya lebih sering fokus kepada satu orang, anak saya sendiri. Tentang mau diapain dan mau dibentuk jadi apa anak ini. Tentang usaha memperkuat bonding ke anak sambil bonding juga ke diri sendiri dan pasangan. Tentang belajar mengasuh atau parenting yang bukan hanya nursing tapi juga nurturing, sambil juga mengobati luka-luka masa lalu yang ternyata pernah saya rasakan dan kayak ke recall aja selama proses mengasuh ini. Gak mudah ya guys ternyata menjadi orang tua tuh :”)

Dengan menulis dan membaca kembali refleksi hidup lewat tulisan itu saya jadi merasa ada yang berbicara ke saya. Diri saya sendiri. Diri saya pada saat saya menulis itu. Ada kalanya saat membaca saya juga merasa “Dih siapa nih nulis beginian? Kok wise banget. Bukan gue pasti deh, kesambet apaan nulis beginian?”, tapi ada kalanya juga saya merasa “Aduh maluuu. Ngapain sih begini begini aja mesti ditulis. Apa yang gue pikirin duluuu?”. Tapi saya percaya, tulisan-tulisan dan periode hidup yang saat itu saya jalani lah yang sudah membentuk saya jadi seperti sekarang.

Dan mengingat-mengingat lagi, merefleksi lagi, menebak-nebak kondisi lagi… itu semua terasa sangat menyenangkan.

Saya menikmatinya.

Hai kamu, terus lah menulis ya!!

Walau kadang waktu tuh rasanya terus ngejar kamu. Walau kadang ada distraksi yang cukup menggiurkan yaitu scrolling timeline orang lain. Walau merasa “sibuk banget nih! Gak ada waktu!” Karena tugas rumah tangga yang memang seabrek dan berulang dan kayaknya gak abis-abis. Walau kadang tenaga tuh kekuras banget ngadepin mood toddler yang energinya juga gak abis-abis. Ku ingin banget punya energi overload-nya toddler. Envy banget.

Gapapa. Inhale. Exhale.

Dan terus lah menulis.

Mau itu di blog. Jurnal harian. Instagram. Atau dimana pun. Yang penting tetap menulis.

🙂

Please follow and like us:

1 thought on “Membaca Refleksi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *