(Lagi-Lagi) Tentang Hidayah

Spiritual Journey

Saat saya mengerjakan tugas dari pengajian, saya sampai kepada QS. Al-An’am, 6:125 yang artinya:

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak”

QS. Al-An’am, 6:125

Tentang hidayah ini gak akan habis-habis untuk direnungkan. Dulu saya sempat berpikir, bahwa kalau Allah sudah menetapkan siapa-siapa saja yang akan menerima hidayah, bukankah kita tidak perlu repot lagi. Toh sudah ditentukan manusia-manusianya. Tapi kemudian teman baik saya mengingatkan — dan nasihatnya masih saya pegang sampai sekarang — dengan menggunakan analogi.

Tentang pesawat terbang dan landasannya.

Bila diibaratkan hidayah itu adalah pesawat terbang dan hati/diri kita sebagai landasannya, maka menurut teori, kita harus mempersiapkan dulu landasan sebesar-besarnya supaya pesawat terbang dengan jenis yang paling besar sekali pun bisa mendarat tanpa ada kendala. Sehingga kapan pun pesawat itu mau mendarat, si landasan sudah siap menerimanya.

Sama seperti hidayah, jika mau diri ini menerima hidayahnya yang besar, maka hati pun harus dipersiapkan. Sehingga kapanpun hidayah itu datang, dia tidak ‘mental’ karena sempitnya hati.

Sederhana ya analoginya. Tapi prakteknya seumur hidup. Membuat saya merenung juga, mungkinkah hidayah itu mencoba untuk datang berkali-kali tapi ternyata hati ini yang belum siap? Dan hidayah itu akhirnya lari ke manusia yang lain, yang hatinya sudah lebih lapang sehingga bisa menerimanya?

Wallahu A’lam.

Tapi yang jelas, harus lebih berusaha untuk membesarkan hati. Setiap saat, setiap waktu. Lantas bagaimana caranya?

Kemudian beliau bersabda: “Apabila cahaya Islam itu masuk ke dalam hati, maka hati itu akan menjadi lapang dan terbuka”. Kemudian ada seseorang yang menanyakan: “Apakah ada tanda untuk itu?” Beliau bersabda: “Ya, yaitu menjauhkan diri dari dunia (yang penuh) tipuan menuju ke dunia yang kekal (akhirat) dan mempersiapkan diri untuk maut sebelum maut itu datang”

Abu Laits As Samaraqandi, “Terjemah Tanbihul Ghafilin”, 2005 — hal.28

“Menjauhkan diri dari dunia (yang penuh) tipuan menuju ke dunia yang kekal (akhirat) dan mempersiapkan diri untuk maut sebelum maut itu datang” — sudah pula disebutkan caranya, tapi hanya saja diri ini yang masih juga suka lupa.

Semoga kita semua masuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan hidayah ya 🙂

Thanks for reading this ‘self-contemplation’ post.

Semoga ada manfaatnya.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *