Diary #Arsyanendra : Drama Alergi dan Berat Badan – PART 1

Diary #Arsyanendra

Hi guys!

Kali ini giliran Alergi dan Drama Berat Badan-nya #Arsyanendra nih yang mau ku bahas. Mungkin ada bu-ibu yang butuh info-infonya, semoga bermanfaat yaa.

Jadi, #Arsyanendra ini berat badan lahirnya 3,9kg. Dan alhamdulillah perkembangan berat badannya cukup pesat dari 0-1 bulan pertama. Tapi setelah itu, naiknya gak banyak, padahal ASInya masuknya banyak. Cuma memang saat itu saya perhatikan, setiap dia nyusu, ditengah-tengah nyusu itu pasti pup. Pupnya lumayan cair. Dengan pengetahuan ibu muda yang masih awam banget sama ngurus anak dan belum bisa baca sinyal-sinyal anak ini, saya pikir wajar karena anak saya masih nyusu ASI. Kan kandungan ASI juga mostly air.

Sampai kira-kira dia berumur 4 bulan kurang, grafik berat badannya mulai mengkhawatirkan. Ibaratnya, dia sudah nabung berat di awal waktu lahir dengan berat di atas rata-rata itu, di 4 bulan udah habis cadangan beratnya. Sekarang dia masuk kategori average. Jadi gak gemuk, tapi gak kurus juga.

Ini waktu seminggu setelah lahir. Buled dan gembil.

Dokter anak #Arsyanendra waktu itu masih bilang ini normal. Cuma saya mulai panik dan akhirnya bawa dia untuk konsul ke dr. Klara spesialis gizi anak di RSCM Kencana.

Dari dr. Klara, diberikan rekomendasi untuk tes darah, urine, dan feses. Saya lupa berapa lama waktu tunggunya, tapi sepertinya gak lama, karena seminggu ke depannya saya sudah konsul lagi untuk bicarakan hasil lab-nya.

Alhamdulillah anaknya kooperatif banget. Setelah selesai konsul dari dr. Klara eh pas banget mas bayik pup juga. Jadi fesesnya langsung kami ambil dan bawa ke lab. Karena untuk feses, maksimal 1 jam setelah feses keluar harus sudah sampai lab-nya. Jadi lumayan challenging ini untuk urusan feses.

Ini setelah 4 bulan. Kalau dilihat dari foto sih masih buled dan gembil yaa (pipinya). Aslinya badannya kecil banget, dagingnya gak sebanyak dulu.

Satu minggu kemudian, keluar hasil bahwa di fesesnya #Arsyanendra positif ada darah samar yang mengindikasikan bahwa dia alergi terhadap asupan makanan yang masuk. Nah karena dia masih full ASI, berarti yang harus diet makanan adalah ibunya. Saat itu saya disarankan untuk puasa produk-produk yang mengandung dairy dan turunannya. Seperti susu, keju, yogurt, es krim, krim cheese, dan lain sebagainya yang enak-enak itu. Trus dikasih tambahan pantangan juga dari dr. Klara untuk gak makan tempe dan olahannya seperti kecap. Karena katanya protein yang terkandung dalam produk olahan dairy itu besar-besar dan sulit untuk dicacah dan dicerna oleh usus bayi. Protein soya pun sebenarnya gak beda jauh dengan protein dairy, makanya biasanya yang alergi dairy sebagian besar alergi soya juga. Apalagi #Arsyanendra ini lahirnya SC dan dari riwayat bapak ibunya ini memang ada riwayat alergi.

Jadilah mamak ikutan puasa juga 🙂

Setelah beberapa minggu berjalan, lumayan membuahkan hasil. #Arsyanendra sudah gak sering pup-nya. Sehari 2x paling banyak. Sebelumnya ya setiap nyusu itu pasti pup. Trus berat badannya udah bertambah pelan-pelan mengikuti grafik. Cuma karena grafiknya masih di bawah itu, dia pun tetap direkomendasikan untuk MPASI dini. Supaya BBnya kekejar.

Ini di usia 6 bulan. Sudah membaik grafik BBnya.

Trus apakah kondisi alergi ini akan di bawa seumur hidup? Menurut dr. Klara, bisa ya, bisa pula tidak. Biasanya typical alergi seperti ini lumrah terjadi saat ini karena pola hidup dan memang usus bayi belum berkembang sempurna. Butuh kira-kira 1 tahun supaya ususnya menjadi sempurna dan bisa mencerna protein-protein yang bentuknya besar-besar tersebut dengan lebih baik. Makanya biasanya setelah 1 tahun usianya, alergi ini akan hilang. Tapi beliau menambahkan, tiap bayi berbeda. Jadi ada yang hilang symptom alerginya di usia 1 tahun, namun adapula yang membutuhkan waktu lebih lama — misal 2 tahun, 3 tahun, bahkan ada yang seumur hidup juga masih ada alergy produk dairy-nya.

Jadi saat usia 1 tahun, kalau bisa dicoba untuk tes feses lagi. Dilihat apakah ada darah di fesesnya.

Untuk kasus #Arsyanendra, alhamdulillah setelah 1 tahun darah samarnya hilang. Dan untuk ASI, dia sudah lepas ASI di usia 1 tahun pas. Jadi sekarang sudah sendiri-sendiri ibaratnya. Gak ada makanan saya yang masuk ke dia, kecuali memang menu makannya sama 🙂

Dengan berangsur-angsur membaiknya berat badan mas bayik ini, mamak lumayan jadi sedikit lebih tenang. Sebelum masuk ke babak tantangan berikutnya — GTM. Dan ini akan dibahas di Part 2. Tungguin yaa!

Ujian makanan dan berat badan anak ini emang yaa gak abis-abis 😀

Buat bu-ibu di luar sana yang mengalami hal yang sama, tetap semangat yaa! Harus terus latih insting ibu. Biasanya insting ibu itu yang paling bener sih. Walaupun kita juga sebagai ibu masih terus belajar 🙂

Keep strong, stay strong!

Cheers!

Xoxo,

Amy

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *