Dia Bernama: #Arsyanendra

MOTHERHOOD Pregnancy Journey

Hi guys! Apa kabarnya? Semoga kalian semua sehat-sehat selalu dan yang lagi hamil dilancarkan proses kehamilan dan persalinannya kelak yaa. Aamiin aamiin aamiin yaa robbal alamiin.

Jadi saya sudah lama sekali ingin mendokumentasikan proses kelahirannya mas bayik di blog ini, tapi banyak banget distraction yang datangnya dari diri sendiri. Oh and by the way, kerja dari rumah ternyata gak semudah yang saya kira. Hahaha. Jadi ada proses penyesuaian yang teramat sangat di sini.. Next time bisa jadi bahan sharing juga untuk postingan berikutnya. Tungguin yaa.

Oke, balik ke topik awal. Tentang proses kelahirannya mas bayik.

And here it goes..

Untuk yang kenal dekat dengan saya, pasti tau kalau ketika saya hamil mas bayik, itu merupakan kehamilan saya yang kedua. Iya hamil yang ke dua tapi kelahiran yang pertama. Bingung gak? Hehehe.

Saya mempunyai pengalaman miscarriage di kehamilan yang pertama. Janin itu hanya bertahan 11 minggu. Untuk sharing tentang ini, akan ada di post yang berbeda nanti ya..

Singkatnya, mempunyai pengalaman miscarriage, apalagi di kehamilan yang pertama, sedikit banyak telah mempengaruhi psikis saya ketika hamil mas bayik ini.. Jeda dari setelah miscarriage sampai saya hamil lagi sekitar 3 bulan. Ini sudah sesuai dengan anjuran dokter bahwa apabila ada pengalaman miscarriage, maka jeda waktunya minimal 3x haid atau 3 bulan (bagi yang haidnya teratur). Saran ini diberikan karena untuk memulihkan seluruh organ-organ tubuh bagian dalam kita diperlukan minimal 3 bulan. Istilahnya, untuk mempersiapkan badan kita untuk dibuahi lagi. Seperti itulah kira-kira gambarannya.

Psikis saya saat hamil mas bayik ini sangat-sangat pesimis. Dan super melankolis. Seperti masih ada unfinished business terhadap diri saya saat itu. Walaupun dokter berkali-kali menekankan bahwa tidak ada yang salah dari apa yang saya lakukan di kehamilan yang pertama. Dan bahwasanya itu lazim terjadi dalam setiap kehamilan. Tapi tetap saya sangat was-was. Bahkan sampai masa-masa terakhir hamil mas bayik.

Ada sih optimisnya, cuma yaa rasa was-was tetap dominan dan akhirnya saya cenderung play safe. Super safe malahan.

Ketika hamil mas bayik, saya sama sekali stop untuk nyetir sendiri. Makanan betul-betul dijaga. Trus gak boleh capek. Menghindari tangga. Seringnya duduk. Dan lain sebagainya. Dan didukung pula oleh sikap banyak orang yang sepertinya sangat ‘menjaga’ saya.

Di awal-awal kehamilan pun, saya ingat mungkin sampai usia kandungan saya 4 bulan, saya mual dan muntah-muntah gak berhenti. Karena masih ngantor, dan sudah stop nyetir sendiri, akhirnya setiap pagi saya nebeng berangkat kantor sama bapak saya. Kebetulan bapak saya punya supir dan lokasi kantornya searah dengan kantor saya saat itu. Saya selalu bangun jam 4 pagi dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Gak nafsu sarapan. Ketika dipaksakan pun, seringnya ketika sampai kantor saya muntah. Sehabis makan siang pun gak lebih baik. Ada kalanya setengah jam kerjaan saya hanya di depan kloset toilet. Karena khawatir muntah di meja kerja. Gak banget kan?

Intinya, karena situasi yang menjaga banget itu, saya merasa saya kurang sekali aktifitas fisik. Yang mana seharusnya ibu hamil kan fisiknya harus super kuat ya. Karena dibutuhkan untuk persiapan ketika melahirkan juga.
Cuma entah kenapa saya yang biasanya juga ayo ayo aja ketika diajak olahraga bahkan cenderung inisiatif buat gerakin badan, pas hamil mas bayik ini mood untuk olahraga hilang. Iya hilang. Bukan berkurang, tapi hilang. Pokoknya yang ada di pikiran saya saat itu adalah “gak boleh capek”. Dan saya mulai aktif berolahraga di usia kehamilan 8 bulan. Telat banget kan?

Setiap saya buang air kecil, saya ingat saya selalu deg-degan. Ada trauma disitu. Saya juga ingat beberapa kali saya nangis tersedu-sedu yang saya sendiri juga gak tau penyebabnya apa.

Campur aduk banget sih perasaan waktu hamil mas bayik. Tapi syukur alhamdulillah, mas bayik berhasil lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.

Week 40, sebesar itu perut saya 🙂

Ketika sudah masuk minggunya untuk lahir, mas bayik masih betah banget di perut. Masuk week 38, dokter bilang posisi kepala sudah masuk panggul. Tapi pas di cek kembali di week 39, dokter bilang lepas lagi dari panggul, masih goyang-goyang. Sampai week 40 ditunggu-tunggu gelombang cintanya belum datang-datang juga, tapi tendangan-tendangannya semakin menjadi. Sakit banget perut berasa melar-melar gitu ditengah-tendang. Ngerasa banget kalau dia memang udah kesempitan di dalam sana. Dan memang ketika di USG di minggu ke 40, ukurannya sudah sangat besar. Adapun akurasi USG adalah plus minus 10%. Kata dokter saya, yang dikhawatirkan adalah kalau janin tersebut plus 10% beratnya dari ketika USG. Maka bayi akan sangat berjuang untuk dapat keluar dari perut saya. Begitu kira-kira gambarannya.

Akhirnya di minggu ke 41, dokter memberikan pilihan, mau diinduksi saja atau di SC? Sebenarnya masih bisa ditunggu sampai week 43 untuk kelahiran normal. Tapi karena riwayat saya di kehamilan yang pertama, dan setelah banyak pertimbangan & diskusi sana sini, akhirnya diputuskan untuk dilakukan operasi sectio terencana.

Alhamdulillah operasi sectio berjalan dengan lancar, dan mas bayik lahir dengan panjang badan 50cm dan berat 3,95kg. Lingkar kepala saya lupa berapa tapi yang pasti lumayan besar, pantas saja goyang terus ketika mau masuk panggul.

Ini penampakannya. Bersih putih gembil banget ketika dia lahir.

Dia yang kami beri nama Muhammad Arka Arsyanendra. Yang berarti Pemimpin yang selalu dapat menyinari dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Semoga nama tersebut menjadi doa yang mengikuti kamu kemana pun kamu pergi ya, Mas. Dan semoga kamu mampu untuk menjadi orang seperti itu, seperti doa kami untukmu.

Aamiin aamiin aamiin yaa robbal alamiin.

Sekian dongeng hari ini. Yang mau saya pesankan kepada semua bu ibuk yang lagi hamil adalah.. selalu dengarkan diri sendiri ya bu. Karena kita yang lebih tau kondisi fisik dan psikis diri kita sendiri. Tetap berjuang dan selalu berikan yang terbaik. Semangat selalu yaaa! #WomanEmpowered #SharingIsCaring

Xoxo,

Amy

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *