Cintai Diri Sendiri, Baru Orang Lain

Personal Thoughts

Dulu, siapa yang sering banget mendengar ungkapan :

Anak dulu yang pertama, kita (orang tua) belakangan aja.

Sering kali kita sebagai orang tua lupa bahwa merawat diri sendiri itu juga penting. Kita seringnya mendahulukan kepentingan anak dibandingkan kepentingan diri sendiri. Yang mana itu juga baik. Tapi lewat postingan ini, saya mau mengajak untuk melihat sisi tersebut dari sudut pandang berbeda.

Tentang self love dan self care.

Jadi kenapa saya memilih topik ini?

Saya secara pribadi merasa makin kesini, orang-orang semakin mudah menghakimi orang lain — disclaimer, mungkin kalian pun yang baca akan merasa saya pun menghakimi orang lain, but it’s okay :). Terutama semenjak saya menjadi orang tua, saya mulai melihat dari kacamata si orang tua. Tentang pola pengasuhan anak yang seharusnya bukan hanya nursery tapi juga nurturing. Yang bahwa kesemuanya itu hanya bisa didapatkan kalau emosi orang tuanya juga sehat dan stabil karena kita pun mengajarkan emosi kepada anak-anak kita.

Tentang emosi.

Bukan merupakan rahasia umum lagi kalau guru yang emosinya sehat, akan menghasilkan murid-murid yang juga mempunya emosi yang sehat. Emosi disini mencakup semua aspek. Bahagia, sedih, marah, kesal, dan sebagainya. Seorang anak, yang masih meraba-raba jenis emosi yang muncul akan cenderung menginterpretasikan emosi-emosinya secara berlebihan. Sekarang bayangkan, kalau kita sebagai orang tua juga begitu mudahnya tersulut emosinya hanya karena seorang anak yang belum mampu memproses emosinya secara sadar dan sehat tadi. Apa kira-kira yang akan terjadi?

Emosi si orang tua akan lebih meluap-luap dari si anak. Si anak yang masih meraba emosinya sendiri, dihadapkan dengan orang tua yang lebih lebay lagi emosinya pasti akan menciut dan diam. Atau bisa juga jadi kebalikannya, lebih tantrum dan semakin menjadi. Hanya saja, dua-duanya tadi tidak akan memberikan pelajaran emosi yang baik yaitu penyaluran emosi secara sehat. Anak bisa jadi akan semakin bersikap defensif terhadap kita, orang tuanya. Dan pasti tidak ada orang tua yang ingin anaknya bersikap seperti itu.

Menurut pengalaman saya menangani anak 19 bulan, kita akan happy menghadapi emosi-emosi tersebut kalau kita pun waras. Dalam artian, kebutuhan kita sudah lebih dulu terpenuhi sebelum kita menghadapi orang lain. Ibarat main the Sims, bar kebutuhan kita sudah berada dalam standar hijau. Jaga agar jangan ada yang kira-kira berwarna merah di bar tersebut.

Ini kira-kira gambaran kebutuhannya

Selalu ingat untuk penuhkan dulu bar tersebut baru kita bisa menangani anak kita dengan sebaik-baiknya. Ini berlaku juga untuk segala bentuk relationship yaa.

“Tidak ada orang lain yang memahami saya”, itu betul. Karena hanya diri kita sendiri lah yang paham kita maunya apa, butuhnya apa. Jadi pinter-pinternya kita untuk mencintai diri sendiri.

Sekarang, semenjak saya memahami konsep ini, dari pada saya uring-uringan gak jelas karena merasa “tidak ada orang lain yang memahami saya” ini, saya mulai untuk memenuhi “gelas” saya sendiri dulu. Saya mulai menciptakan rutinitas pagi harian. Saya bangun lebih pagi dan tidur lebih cepat. Saya makan sebelum saya memberi makan, saya ciptakan kenyamanan diri sendiri, dan gak ragu untuk meminta me-time.

Gak ada yang salah dengan jalan-jalan sendirian di mall atau nonton bioskop sendirian kalau kamu memang merasa itu jadi me-time kamu. Atau misalnya liburan tanpa bawa anak misalnya, cuma kamu berdua sama pasanganmu. Itu bisa jadi retreat yang menyenangkan. Jadi ketika kamu pulang, kamu akan fresh dan bisa kembali membagikan isi ‘gelas’ kamu yang sudah penuh tadi.

Selalu ingat bahwa,

You can’t pour from an empty cup. Take care of yourself first. Treat yourself first so you can help others.

Di dalam penerbangan juga ketika masker oksigen turun, diwajibkan untuk dipakai dulu di diri sendiri baru boleh pasangin orang lain kan πŸ™‚

Mari menjadi orang tua yang waras. Supaya kita bisa menghasilkan generasi yang lebih waras. Yang punya gelas dengan isi yang lebih banyak.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *