Children See, Children Do

MOTHERHOOD Personal Thoughts

Sewaktu saya kuliah dulu, pernah diperlihatkan ads ini, tentang anak yang akan selalu meng-copy kebiasaan dan perilaku orang tuanya. Setelah betulan menjadi orang tua, this parenting stuff is getting really really real. Betul-betul apa yang dilihat, didengar, diperhatikan oleh anak, akan dikembalikan lagi oleh mereka. Kalau tidak dikembalikan langsung kepada kita, maka akan dikembalikan oleh mereka ke temannya, keluarga besarnya, maupun lingkungannya.

Beberapa hari yang lalu, saya dan suami baru saja memperhatikan seorang anak yang apabila dihukum oleh ibunya, anaknya dimasukkan ke kamar dan dikunci. Si anak nangis meraung-raung sampai batuk-batuk. Walaupun menurut kami cara tersebut sama sekali tidak bijaksana dan sudah kami tegur, tapi menurut mereka itu ampuh untuk memberikan pelajaran disiplin pada anaknya. Ya sudah kami tidak ikut campur lebih jauh.

Setelah kejadian tersebut — yang pada saat itu kami sudah lupa — Arka bermain dengan anak tersebut di kamarnya. Dan mungkin rebutan mainan atau apalah kami juga gak terlalu paham, tiba-tiba saya mendengar Arka menangis meraung-raung. Dan ketika kami lihat, posisinya adalah Arka masih di dalam kamar, dan anak yang tadi berada di luar kamar dengan pintu tertutup sambil pintu tersebut ditahan olehnya supaya tidak ada yang buka. Saya tidak boleh masuk olehnya. Sontak, saya marah dan buka paksa pintunya. Sedih sekali perasaan saya waktu itu dan hanya bisa berdoa supaya hal tersebut tidak masuk ke dalam memori alam bawah sadarnya Arka. Dan supaya dia tidak akan pernah melakukan itu ke orang lain.

“Children see, children do.”

Ternyata apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya membekas dengan jelas di pikiran anaknya. Kalau menurut orang tuanya wajar untuk memberikan hukuman dengan mengunci pintu dan membiarkan anaknya menangis di dalam kamar sendirian, maka sang anak juga akan merasa wajar untuk melakukan itu — ke orang yang lebih berada di ‘bawahnya’. Mungkin ini juga yang mungkin akan menjadi cikal bakal Bullying apabila tidak ditangani lebih lanjut. Arka umurnya lebih muda 2 tahun dari anak itu.

Lain lagi dengan 1 peristiwa yang juga saya dan suami alami. Saat itu kami berdua mengantarkan Arka baby gym di Kota Kasablanka. Saya lagi kasih makan Arka dan Arka lagi lincah-lincahnya. Apapun barang di jatuhkan olehnya. Saat itu mungkin usia Arka 10-11 bulan. Gak jauh dari tempat kami duduk, duduklah seorang bapak yang sedang asyik makan juga dengan anak laki-lakinya yang kira-kira umurnya 6 tahunan. Ketika Arka menjatuhkan tutup makanannya ke dekat si bapak, sang bapak yang melihat langsung sigap mengambilkannya untuk kami — anaknya memperhatikan. Ketika tutup makanan itu jatuh untuk kedua kalinya oleh Arka, si anak tadi lebih sigap dari bapaknya dan berusaha untuk mengambilkannya padahal posisi tutup makanan tesebut lebih dekat ke kami daripada ke mereka. Kami berterima kasih kembali ke mereka. Sederhana, tapi mengena ke hati kami berdua.

Saya dan suami belajar banyak dari pelajaran ini. Lebih introspeksi satu sama lain. Apa yang sudah kami katakan, perbuat, lakukan di depan anak semoga hanya terekam olehnya perilaku baik kami. Mungkin ini pula yang dikatakan ‘ketika punya anak, kamu akan berusaha untuk jadi orang yang lebih baik lagi’. Hanya ketika kamu, sang orang tua, mau juga untuk ikut terus belajar.

Bismillahhirrahmannirrahiim, semoga kami berdua tidak salah mengasuh Arka.

Semangat untuk semua orang tua di luar sana! Mari ciptakan parenting yang baik sehingga dapat menjadikan lingkungan lebih baik juga untuk tumbuh kembang anak kita nantinya.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *