Berusaha Berpikir

MOM JOURNAL

Jadi anak saya yang umurnya sekarang 2 tahun 9 bulan itu lagi suka-sukanya main puzzle. Puzzle apapun. Dari yang bentuknya besar-besar, chunky, sampai yang puzzle-puzzle kecil pada umumnya. Walaupun yang kecil-kecil itu masih sebatas interest aja, ujung-ujungnya yang disuruh main tetap orang tuanya. Tapi bener-bener deh, kegemaran saat ini itu puzzle. Kapan pun pasti main puzzle.

Bangun tidur. Puzzle.

Abis makan. Puzzle.

Sebelum tidur. Puzzle.

Gak ada hari tanpa puzzle.

Suatu waktu, karena saya tahu dia lagi senang-senangnya sama puzzle, saya beli lah puzzle di ELC. Isinya 4 puzzle. Dari yang 12pcs, 16pcs, 24pcs, sampai 32pcs. Awalnya dia excited banget tapi belum mau main sendiri. Masih maunya liatin aja. Tapi gak sampai seminggu, itu empat-empatnya udah diabisin semua sama dia. Lancar.

Yang ngebedain cuma waktu nya aja. Makin lama makin cepat.

Nah, waktu dia sudah selesai semuanya, dia bilang kayak gini ke saya:

“Mami, kapan yaa Arka dibeliin puzzle lagi. Nanti kalau mau beli, belinya puzzle yang piece-piece nya banyak yaa. Nanti Arka berusaha. Arka berpikir (supaya selesai)”

Berusaha. Berpikir.

Trus saya pas denger itu, terenyuh. Anak 2 tahun 9 bulan sudah berani men-challenge dirinya sendiri. Hanya demi supaya dia berusaha. Supaya terus berpikir.

Berpikir dan berusaha itu ternyata sebegitu nagihnya yaa buat anak. Hal yang buat kita orang dewasa malahan kadang terlalu malas untuk berpikir. Terlalu malas untuk berusaha. Maunya instan. Maunya serba cepat. Orientasi pada hasil dengan mengecilkan proses. Padahal seharusnya berusaha dan berpikir itu jadi fitrahnya setiap anak. Kalau gagal coba lagi. Kalau belum berhasil, usaha lagi. Kalau masih penasaran jangan berenti.

Gak jarang Arka tuh, kalau misalnya ada tantangan depan dia, misalnya puzzle atau memory game atau apalah itu (yang saya bikin buat dia), trus dia capek atau pusing atau kewalahan sendiri, dia minta ijin ke saya untuk break. Iya, untuk istirahat sambil bilang “Mami, tunggu ya, kayaknya Arka capek. Arka istirahat dulu. Tapi jangan diberesin. Nanti abis bobo-boboan, mau main lagi”

Main.

Mungkin itu kata kuncinya yaa.

Dengan menganggap kalau ini bermain, kalau ini fun, maka seharusnya yang susah juga bisa jadi mudah. Dengan terus menerus usaha pasti akan berhasil.

Dan saya masih kebayang banget muka dia waktu berhasil menyusun semuanya sendiri. Bangga. Muka-muka bangga gitu dan bilang “Waah Arka hebat ya! Arka BERHASIL!”. Trus dia jejingkrakan dance-dance gak jelas.

Walaupun ketika main puzzle itu, ditengah-tengah minta disemangati. Minta ibunya jadi ‘cheerleader’ dengan teriak-teriak kayak orang gila “ARKA ARKA AYO ARKA, ARKA PASTI BISA!”. Tapi siapa sih di dunia ini yang gak butuh motivasi? Dan ketika beneran berhasil tuh ada perasaan menang.

Itu mungkin yang nagih ya.

Mau ditantang dan tertantang terus menerus mungkin seharusnya ada di diri semua manusia. Gak malu kalau kalah. Gak malu kalau belum bisa. Gak mudah menyerah.

Sungguh, membersamai anak ini 24 jam itu berasa banget kayak dikuliahi kehidupan. Rasanya kayak yang diingatkan terus menerus.

Fitrah anak. Itu juga yang harus dijaga.

Semoga sampai kapan pun kamu kuat terhadap tempaan yaa, mas bayi yang udah gak bayi lagi 🙂

Semoga segala tempaan itu terus menjadikan kamu kuat dan gak mudah menyerah.

Terima kasih sudah kembali mengingatkan, mas.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *