Belajar dari Bersepeda

Curhat Pengasuhan

Sudah sekitar total 5 bulan sejak Arka dapat sepedanya. Dan sudah rutin selama 3 bulan sepedanya dimainkan di luar rumah. Saat ini dia sudah bisa ngebut dengan posisi kaki di angkat, dan benar2 sudah bisa mengendalikan sepedanya serta jaga keseimbangan. Sudah jarang jatuh deh pokoknya. Kalaupun jatuh biasanya karena fokus dia teralihkan ke yang lain sehingga gak fokus lihat ke depan.

Nah karena saya pikir dia sudah lumayan bisa kontrol sepedanya, saya iya aja sewaktu Arka ajak saya untuk main sepeda ke jalan besar di dalam komplek. Mungkin karena dia bosan mainnya hanya sekitar di gang rumah dan di taman belakang saja — yang jarang sekali dilewati oleh mobil kecuali memang rumahnya disitu juga.

Yasudah kami pergi lah bersepeda tapi kali ini rutenya ke depan. Ke arah pintu satpam komplek.

Dia senang sekali kelihatannya. Di jalan besar ini ada pembatas berupa marka jalan warna kuning untuk pesepeda. Dia berusaha untuk tetap di jalurnya. Saya mengikuti dengan berjalan kaki di sampingnya.

Dua menit, masih takut-takut. Laju sepeda pelan-pelan santai.
Lima menit, udah mulai pede. Laju sepeda agak cepat. Saya ikut jalan cepat.
Tujuh menit, mulai ngebut. Saya lari-lari kecil mengimbangi.

Dan disini lah kejadian itu bermula.

Arka pacu sepedanya kencang sekali sehingga ada jarak antara saya dan dia. Posisi dia ada di depan saya. Sepedanya pun masih berada di jalur pesepeda, harusnya aman yaa. Harusnya.

Tapi trus ada motor yang lewat dari arah gerbang komplek itu, daaaannn disini lah yang bikin jantung saya mau copot. Arka yang tadinya posisinya udah steady, udah aman di jalurnya, tiba-tiba dia muter balik doonggg. Se-tiba-tiba itu. Dan muter baliknya gak tanggung-tanggung, muternya ke tengah jalan.

Saya kejar dia. Saya stop dan saya tuntun balik ke jalurnya. Motornya memang masih jauh, jarak pandangnya juga masih luas jadi si motor bisa menghindar juga.

Sampai ke jalurnya, saya masih shock kan. Saya jongkok dan saya tanya kenapa dia puter balik ke tengah jalan, padahal dia tahu kalau itu bukan jalur sepeda. Tengah jalan itu punyanya motor dan mobil, dan blablablablaaaa saya ceramah. Respon Arka diam saja, tapi cukup responsif ketika saya tanya.

“Arka tahu kalau tengah jalan itu punyanya siapa?”

“Mobil dan motor”.

“Arka lagi pakai apa sekarang?”

“Sepeda.”

“Boleh gak ke tengah jalan pakai sepeda?”

“Gak boleh.”

“Yaudah gak boleh diulangi lagi yaa. Mami kaget banget barusan.”

“Iya.”

“Hati-hati yaa Arka. Yaudah yuk kita pulang aja ya ke rumah.”

“Iya.”

Trus saya jalan balik arah ke arah rumah. Dan Arka masih diam dong gak gerak dari posisi semula.

“Kenapa Arka gak jalan? Ayuk jalan yuk.”

Masih diam di tempatnya.

Saya yang tadinya udah jalan, balik lagi ke tempat dia.

“Yuk, Ka.”

Kenceng dong dia pegangin sepedanya. Gak mau jalan. Tapi tatapannya kosong gitu.

“Arka mau peluk?”

“MAUUUU”

Pas saya peluk, nangis senangis-nangisnya diaaa. Jadi saya lupa, saya shock tapi dia pasti lebih shock. Saya lupa menanyakan dan mengenali emosinya itu. Seharusnya peluk aja dulu dari awal. Baru tanya-tanyanya belakangan.

Tangannya masih gemetar. Lama kita pelukan di pinggir jalan tuh. Waktu itu sudah sore, jam-jam pulang kantor. Sudah mulai banyak mobil yang lewat, tapi yaudah biarin aja. Sampai kira-kira dia sudah tenang, saya tanya lagi.

“Udah bisa pulang, Ka?”

“Udah.”

“Mau jalan sekarang?”

“Mau.”

Trus dia naik lagi ke sepedanya, dan jalan pelan. Pelaaaaaannnn sekaliiii. Dan setiap dia dengar bunyi motor atau mobil yang lewat, dia diam kayak patung. Benar-benar gak bergerak. Pas mobil atau motor sudah jauh, baru dia jalan lagi. Tapi pelaaaaannnnn dan super hati-hati. Saya lihat tangannya masih gemetar halus.

Sampai depan gang rumah, dia tanya saya.

“Sudah boleh ngebut, Mami?”

“Sudah.”

“Ini bukan jalan raya yaa?”

“Iya bukan jalan raya.”

Trus dia langsung ngebut sekencang-kencangnya. Gang rumah kami buntu, dan rumah kami ada di ujung jalannya. Rumah kedua dari ujung jalan.

Saya biarkan dia bermain-main sebentar di luar sambil saya pun menata hati. Asli rasanya failed banget. Respon reaksi saya gak sesuai dan saya merasa bersalah sama dia. Sampai akhirnya dia saya minta masuk rumah karena waktu magrib sudah hampir tiba. Di rumah, saya duduk sama dia dan saya ulang apa yang barusan terjadi. Dia diam dan dia minta maaf. Minta maaf. Padahal saya yang seharusnya minta maaf sama dia.

:”)

Ini sudah kali ke dua selama parenting respon saya bikin anak ini shock. Saya menulis ini untuk jadi pengingat untuk saya, bahwa apapun yang terjadi, dalam keadaan shock, peluk aja dulu. Karena masing-masing dari kami butuh ditenangkan terlebih dahulu sebelum bisa berpikir dengan jernih.

Besoknya tetap main sepeda?

Tetap dong. Malamnya di dalam rumah pun dia masih main sepedanya. Iya segitu cintanya dia sama sepeda.

Semoga gak jadi pengalaman traumatik yaa, Ka.

:”)

Terima kasih sudah membaca yaa. Sampai bertemu di Curhat Pengasuhan berikutnya!

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *