Balance Bike. Yes or No?

100 Hari Menulis Mom Review MOTHERHOOD

Balance Bike, sesuai namanya memang digunakan sebagai alat latihan untuk belajar “balance”, atau seimbang. Rasa-rasanya jaman saya kecil dulu, urutan belajar naik sepeda adalah sepeda roda 3, roda 4 (dengan 2 roda kecil disamping roda yang di belakang), baru lepas roda-roda kecil yang di belakang itu sehingga menjadi roda 2. Jadi dulu urutannya adalah belajar mengayuh secepatnya, dan steering. Sedangkan balance-nya belakangan. Nah, siapa yang sampai sekarang gak bisa naik sepeda? Yang setiap naik sepeda itu selalu oleng terus? Yhaa, mungkin memang kita tuh gak segitunya diajarin keseimbangan yaa dulu-dulu. Keburu takut duluan. Awal-awalnya udah pede banget pake sepeda roda 3 atau 4, eh pas roda kecilnya mau dilepas, trus ciut. Akhirnya gak main sepeda lagi.

Ternyata dengan Balance Bike ini, urutannya adalah balance – steering – gowes (kalau udah bisa balance & steer katanya gowes mah gampaanggg). Latihan ini bisa dimulai dari anak usia 18 bulan sampai 5 tahun. Akhirnya setelah diskusi dengan suami, pas ulang tahun ke duanya #Arsyanendra, kami hadiahkan dia Balance Bike plus helm-nya.

Ternyata anaknya happy dong. Kalau kuperhatikan, dia seperti merasa tertantang gitu untuk naik dan mainin sepedanya karena kontrolnya kan ada di badannya dia sendiri. Gak perlu orang dewasa yang dorong-dorong dia, dia bisa dorong pakai kakinya sendiri.

Pada awalnya, #Arsyanendra tuh kayak bingung sendiri. Mungkin yang ada dipikirannya dia ini gimana cara maininnya yaa. Tapi gak berapa lama dia cari cara untuk menggerakkan sepedanya. Sekarang sih baru bisa jalan biasa dan latihan belok aja tiap sore di depan rumah. Kalau ngeliat youtube-youtube anak-anak bule sana, jelas banget kelihatan tahapan-tahapannya itu: berjalan tertatih, lalu setengah berlari, sampai mereka bisa berlari menggunakan sepeda dan mencari titik seimbangnya sendiri. Bahkan saya pernah lihat di salah satu video, toddler umur belum sampai 3 tahun, sudah diajak ke skate park dan dia berani dong meluncur disitu dengan balance bikenya. Luar biasa gak sih ituu.

Dari hasil riset kecil-kecilan juga, saya membaca bahwa dengan berlatih dengan Balance Bike ini, banyak sekali manfaatnya untuk anak, diantaranya adalah:

  • Melatih fokus
  • Menggenggam stang melatih otot-otot halus jari
  • Merangsang kemampuan pendengaran anak selagi bermain (berhubungan dengan tingkat fokusnya dia)
  • Gerakan mendorong melatih kemampuan otot-otot besarnya/gross motor skill
  • Melatih keseimbangan
  • Melatih anak mengatur gerak & kordinasi tubuh secara cepat
  • Membangkitkan percaya diri
  • Mengajarkan anak mengendalikan rasa takut

Banyak banget kan yaa itu, padahal hanya dengan latihan setengah jam aja lho.

Terus terang, saya love banget sama balance bike ini. #Arsyanendra juga bisa menghabiskan waktu lebih lama di luar rumah daripada sekedar ngejar-ngejar kucing tetangga sebelah aja. Kalau saya lari sore pun, dia bisa ngejar sedikit-sedikit. Menyenangkan yaa.

Lantas, adakah kendalanya?

Kalau secara pribadi sih gak ada, tapi biasanya pertanyaan-pertanyaan selalu bermunculan dari orang-orang tentang “kok sepedanya gak ada pedalnya?”, trus “itu gapapa begitu mainnya? gak takut tulang belakangnya bermasalah?”, atau “dulu gak pake begituan, tetep aja bisa naik sepeda”.

Mengenai tulang belakang, saya percaya anak akan mencari nyamannya dia sendiri. Kalau dia merasa gak enak, dia akan menyesuaikan dan mencari yang nyaman untuk dia. Asalkan kita gak ikut campur di dalamnya (baca: paksa dengan memberi contoh, dll). Biarkan saja si anak yang mencari.

Dulu memang gak ada balance bike ini, dan beberapa orang memang tetap bisa naik sepeda dengan baik. Menurut saya, setiap anak punya periode sensitifnya. Dan anak usia 18bulan – 5 tahun ini sedang berada di periode sensitif untuk sensorik & motoriknya, termasuk belajar “seimbang”. Kalau udah lewat masa-masa itu tapi baru mau coba trus gimana efeknya? Yaa gak papa juga sih. Cuma akan lebih lama aja prosesnya. #Arsyanendra kemarin jatuh pas naik sepeda, tangannya baret-baret. Trus apa dia trauma? Nggak tuh ternyata, besoknya coba lagi dan lagi. Itu saya pahami sebagai periode sensitifnya dia. Jadi sebisa mungkin kita pun kasih stimulasi yang sesuai dengan usianya.

Oke, sekian cerita hari ini. Semoga bermanfaat yaa, dan sampai bertemu di cerita selanjutnya.

Xoxo,

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *